Beritaislam.com – Bentuk zalim sendiri tidak hanya bisa terjadi antara satu manusia dengan manusia lainnya. Seringkali, kita jarang tidak menyadari bahwa perbuatan menyenangkan atau menyusahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan bentuk zalim terhadap dirinya sendiri.
Belum lagi perkembangan zaman yang serba cepat, semakin membuat manusia terlena. Begadang, makan-makanan junk food, jarang olahraga merupakan salah satu bentuk zalim yang banyak terjadi di era modern.
Bentuk Zalim Terhadap Diri Sendiri yang Berdosa
Islam merupakan agama yang selalu menjaga keseimbang hidup umatnya, baik secara vertikal maupun horizontal. Antara hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan manusia lainnya, maupun dengan dirinya sendiri.
Islam menuntut umatnya untuk tetap menjalankan kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya tanpa melupakan akhirat.
Sebagaimana terdapat hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berbunyi,
نْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”
Namun, banyak manusia modern yang seringkali berat sebelah, entah terlalu dunia ataupun terlalu akhirat hingga tanpa sadar merugikan hingga menzalimi diri sendiri.
Bentuk zalim terhadap diri sendiri, pertama yang sering terjadi di era modern yaitu workholic, biasanya orang yang dilebeli dengan julukan ini terbiasa menekan dirinya sendiri untuk “terlalu gila” bekerja, dan terkadang sampai mengabaikan kehidupan sosial dan agama.
Dalam Islam, manusia tidak hanya diciptakan untuk hidup, bekerja lalu mati. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah Al-Qashash ayat 77.
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ٧٧
Artinya: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat ini dengan tegas mengatakan pada manusia untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, karena pada hakikatnya manusia merupakan khalifah di muka bumi.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al- Baqarah: 30)
Jangan pernah habiskan waktumu hanya untuk bekerja, tapi jadikan dunia sebagai alat untuk tabungan di akhirat. Ingatlah sejatinya manusia merupakan perantau yang harus pulang ke kampung halamannya (surga).
Kedua, menjadi people pleaser, yaitu orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain secara berlebihan, bahkan terkadang diluar kemampuannya hingga sampai mengorbankan diri sendiri.
“Duh, gak enak nolak, tapi kerjaan masih banget. Gimana dong?”
Pada dasarnya berbuat baik dalam Islam merupakan sesuatu yang akan diganjar pahala, tapi jika dari awal niatnya hanya untuk manusia maka tidak akan bisa bernilai ibadah. Bukankah ini zalim pada diri sendiri?
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan jika kamu melakukan sesuatu diluar kemampuan hingga menyusahkan diri sendiri, ini merupakan bentuk zalim kepada diri sendiri yang sering terjadi pada kebanyakan manusia.
Ingatlah Allah SWT saja tidak pernah membebani sesuatu diluar kemampuanmu.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ٢٨٦
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (Al-Baqarah: 286).
Ketiga, buang-buang waktu. Manusia modern sering sekali terjebak dalam ranah ini, mengingat sekarang hiburan semakin banyak dan begitu dekat dalam genggaman.
Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal positif dan bermanfaat, habis begitu saja dengan scroll berjam-jam di media sosial.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412).
Sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak menzalimi diri sendjri dengan membuang-buang waktu. Kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk bekal di dunia dan akhirat.
Jadi, itulah tiga bentuk zalim yang sering terjadi di era modern.
Baca Juga: Self Reward Bernilai Ibadah, Emang Bisa?
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah
