Beritaislam.com – Tahukah kamu dosa yang dilakukan penulis novel? Menjadi penulis novel bukan sekadar soal kemampuan merangkai cerita, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dan spiritual atas setiap kata yang dituliskan.
Dalam Islam, tulisan termasuk perbuatan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ketika sebuah karya dibaca banyak orang dan mempengaruhi cara berpikir maupun bertindak mereka, maka dampaknya bisa menjadi pahala jariyah atau justru dosa jariyah. Lantas apa saja dosa yang dilakukan penulis novel?
Dosa yang Dilakukan Penulis Novel
Allah SWT berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS.Qof: 17)
Berdasarkan ayat ini, bahwa tulisan pun termasuk ucapan yang kelak dipertanggungjawabkan.
Salah satu dosa dilakukan penulis novel terutama penulis novel romance untuk menarik banyak pembaca yaitu menulis adegan ranjang secara eksplisit.
Tulisan semacam ini tidak hanya dapat membangkitkan hawa nafsu, tetapi juga berpotensi mendorong pembaca pada maksiat.
Allah SWT berfirman melarang mendekati zina,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. (QS. Al- Isra’: 32)
Adegan yang terlalu vulgar bisa menjadi jalan yang mendekatkan pembaca pada hal yang diharamkan, misalnya jadi ada keinginan berzina, berkhayal berzina dan sebagainya, sehingga penulisnya ikut menanggung dosa selama tulisan itu terus dibaca pembaca.
Dosa yang dilakukan penulis novel, selanjutnya adalah membuat tulisan yang memotivasi dan membenarkan kelakuan jahat orang. Contoh kalimatnya, “Orang jahat adalah orang baik yang disakiti”, narasi yang seolah membenarkan kejahatan dengan alasan masa lalu yang pahit.
Jelas narasi ini keliru dalam pandangan Islam. Rasulullah SAW justru menunjukkan teladan sebaliknya. Beliau tetap berakhlak mulia kepada orang-orang yang menyakitinya.
Ketika peristiwa Fathu Makkah, Nabi Muhammad SAW memaafkan musuh-musuh yang selama bertahun-tahun memeranginya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT,
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤
Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia. (QS. Fussilat: 34).
Bahkan, Rasulullah SAW juga memberikan teladan bagaimana beliau memperlakukan dan memaafkan pembunuh pamannya,
Kemudian Rasulullah pun berkata kepada Wahsyi,
“Saya memaafkan engkau wahai Wahsyi, namun saya tidak sanggup untuk memandang wajahmu, karena setiap kali memandang wajahmu, akan teringat pada kejadian perang uhud dulu, maka jauhkanlah wajahmu dari hadapanku selamanya”, ucap Rasulullah.
Tulisan yang menormalisasi kejahatan dan dendam dapat menjadi dosa jariyah karena menginspirasi pembaca melakukan keburukan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis novel untuk memahami batasan agar karyanya tidak menyeret pada keburukan yang terus mengalir.
Baca Juga: Menulis Menggunakan AI dalam Pandangan Islam: Apakah Termasuk Curang?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah
