Beritaislami.com – Menjaga masjid agar tetap tertib dan suci adalah niat yang mulia. Banyak pengurus masjid menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, berangkat dari kecintaan pada rumah ibadah.
Namun dalam praktiknya, niat baik itu terkadang hadir dengan cara yang keliru. Tanpa disadari, masjid justru menjadi ruang yang menyisakan luka kecil, membuat umat perlahan menjaga jarak.
Sikap Pengurus Masjid yang Menjauhkan Umat dari Masjid
Pertama, pengalaman dimarahi saat membawa anak ke masjid kerap menjadi awal jarak emosional. Anak-anak yang dianggap berisik sering ditegur dengan nada keras, bahkan diusir. Orang tua pun merasa tidak diterima.
Padahal, bagi banyak keluarga, ke masjid adalah proses belajar bersama. Teguran yang tidak proporsional meninggalkan kesan bahwa masjid bukan ruang ramah bagi keluarga, melainkan tempat yang menekan dan menghakimi.
Kedua, masjid yang dikunci justru saat umat seperri musafir yang ingin beribadah menjadi trauma berikutnya. Ada musafir yang datang dengan niat salat, tetapi mendapati pintu masjid tertutup.
Ada pula yang belum selesai salat namun sudah diminta keluar karena masjid harus segera dikunci. Pengalaman semacam ini membuat masjid terasa tidak hadir untuk umat, seolah ibadah hanya boleh dilakukan pada waktu dan cara yang sangat terbatas.
Ketiga, larangan beristirahat di masjid juga menyisakan luka yang tidak terlihat. Jamaah yang singgah untuk menenangkan diri, sekadar duduk atau melepas lelah, justru dimarahi dan diusir.
Masjid yang seharusnya menjadi tempat teduh dan aman berubah menjadi ruang yang dingin. Dari sinilah umat mulai merasa asing dengan Masjid, bukan karena nilai ibadahnya, tetapi karena pengalaman sosial yang melukai.
Dibalik luka-luka itu, memang benar ada niat baik pengurus masjid yang ingin menjaga dan memastikan masjid aman dan nyaman untuk jamaah, namun perlu diperhatikan menjaga masjid sejatinya bukan hanya soal bangunan dan ketertiban, tetapi juga tentang menjaga hati orang-orang yang datang dengan niat baik.
Baca Juga: Masjid Zaman Nabi VS Masjid Zaman Sekarang: Apa Bedanya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
