Beritaislam.com – Masjid megah kini tumbuh di banyak kota, menjulang dengan kubah besar, marmer mengilap, dan pencahayaan yang memanjakan mata. Dari luar, bangunan ini kerap menjadi ikon kebanggaan daerah.
Namun di balik kemegahannya, muncul kegelisahan yang jarang dibicarakan, masjid yang tampak hidup dari kejauhan, justru terasa jauh ketika hendak didatangi.
Masjid Megah yang Kehilangan Umat
Fenomena masjid megah yang lebih sering terkunci menjadi cerita yang berulang. Pintu hanya dibuka menjelang waktu salat, lalu kembali ditutup rapat. Kekhawatiran akan kehilangan barang, risiko kemalingan, hingga alasan keamanan kerap menjadi dalih utama.
Padahal, kehadiran CCTV dan sistem pengamanan modern seharusnya bisa menjadi solusi, bukan alasan untuk membatasi umat berlama-lama di dalam masjid megah tersebut.
Pertama, budaya penguncian ini perlahan membentuk jarak emosional. Masjid tidak lagi dipandang sebagai ruang singgah, tempat menenangkan diri, atau sekadar duduk diam melepas penat. Ia berubah menjadi ruang yang fungsional semata dan hanya didatangi saat salat, lalu pergi. Dalam konteks ini, masjid megah kehilangan ruh sebagai rumah bersama umat.
Kedua, pengawasan berlebihan juga memberi dampak psikologis. Kamera yang terasa “mengintai” dan sikap pengurus yang terkesan curiga membuat sebagian jamaah enggan berlama-lama. Niat baik menjaga aset justru berubah menjadi suasana kaku, seolah masjid adalah ruang yang harus selalu diawasi, bukan dipercaya.
Ketiga, ketika kenyamanan batin hilang, umat akan mencari ruang lain untuk menenangkan diri. Ironisnya, pusat perbelanjaan atau kafe sering terasa lebih ramah dibanding masjid megah. Jika kondisi ini dibiarkan, masjid akan terus berdiri megah secara fisik, tetapi semakin sepi secara makna.
Masjid megah sejatinya bukan hanya soal arsitektur, melainkan tentang bagaimana ia hadir dan dirasakan. Tanpa rasa aman dan keterbukaan, kemegahan justru menjadi jarak yang perlahan menjauhkan umat dari masjid itu sendiri.
Baca Juga: Niat Baik yang Melukai: Ketika Pengurus Masjid Malah Menjauhkan Umat dari Masjid
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
