Beritaislam.com — Di tengah budaya pacaran yang semakin dinormalisasi, proses taaruf sering kali dianggap kaku, ribet, bahkan tidak realistis. Dianggap seperti beli kucing dalam karung, dianggap tidak bisa mengenal pasangan secara nyata dan sebagainya.
Padahal, dalam Islam, cara menuju pernikahan sama pentingnya dengan tujuan pernikahan itu sendiri. Menikah adalah ibadah, dan setiap ibadah sejatinya harus dimulai dengan jalan yang benar agar bernilai di sisi Allah SWT. Semua harus bermula dari niat dan jalan yang baik.
Alasan Memilih Pasangan Lewat Taaruf
Pertama, karena taaruf merupakan proses yang disyariatkan dalam Islam. Artinya, ini adalah jalan mencari jodoh yang Allah ridhai.
Menikah itu ibadah, maka sudah semestinya ia dimulai dengan cara yang baik, bukan dari jalan yang salah yang justru bisa merusak nilai ibadah tersebut.
Contoh sederhananya begini, kamu pengen mangga, dalam Islam kamu bisa beli mangga atau minta mangga ke yang punya mangga, ini halal, dan mangga yang masuk ke dalam tubuhmu pun jadi halal.
Tapi kalau kamu pengen mangga lalu mendapatkannya dengan cara mencuri dari orang lain, maka mangga yang kamu dapat jadi haram.
Dalam Al-Quran, Allah telah mengingatkan kita untuk menjauh segala perkara haram,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Rasulullah SAW juga bersabda,
كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ اَوْلٰى بِهٖ
Artinya: “Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (HR At-Thabrani).
Dari sini jelas, cara mendapatkan sesuatu sangat menentukan keberkahannya.
Kedua, karena di dalam proses taaruf, kamu tidak perlu melibatkan perasaan di awal. Kamu bisa mencocokkan visi dan misi hidup dengan calon pasangan tanpa terkontaminasi emosi.
Biasanya, terutama cewek, kalau sudah terkontaminasi perasaan, cara berpikir jadi tidak logis dan penuh denial. Kalimat seperti, “aku yakin kok dia bisa berubah” atau “dia janji bakal berubah demi aku” sering sekali muncul. Akibatnya visi misi dilonggarkan hanya demi memasukan orang yang seharusnya tidak masuk ke kehidupanmu.
Nikah itu panjang, so, jangan mau berada di pondasi serapuh itu, yang bahkan sejak awal sudah ditopang harapan semu.
Ketiga, dalam proses taaruf biasanya melibatkan pihak ketiga. Kehadiran pihak ketiga ini membuat proses lebih aman, terjaga, dan menjauhkan dari mendekati zina.
وَلَا تَقۡرَبُوا الزِّنٰٓى اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ؕ وَسَآءَ سَبِيۡلًا ٣٢
Artinya: “Dari sini, menikah dengan niat menjaga diri dari zina jelas tidak salah, bahkan bisa bernilai ibadah jika disertai niat dan cara yang benar.” (QS. Al-Isra: 32)
Islam sangat menekankan penjagaan batas, dan taaruf hadir sebagai mekanisme yang membantu umatnya tetap berada dalam koridor syariat. Dengan begitu, taaruf bukan sekadar metode, tapi ikhtiar untuk menjaga hati, akal, dan iman.
Jadi, itulah alasan logis memilih pasangan melalui taaruf yang merupakan ikhtiaran yang pas dalam menjemput jodoh.
Baca Juga: Nikah Bukan Satu-satunya Solusi Biar Gak Zina: 3 Solusi Terhindar dari Zina yang Ditawarkan Islam
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.
