Beritaislam.com – Islam tidak pernah mengajarkan kesabaran yang pasif dan membiarkan kezaliman terus berlangsung. Dalam kehidupan, sabar sering dipahami sebagai sikap diam dan menerima apa pun yang terjadi.
Pertanyaan “sabar ada batasnya?” muncul bukan karena lemahnya iman, tetapi karena manusia sedang berada di titik lelah dalam menghadapi ujian.
Sabar ada Batasnya?
Sabar sejatinya tidak memiliki batas dalam proses melewati ujian yang Allah tetapkan. Selama ujian itu datang dari Allah dan tidak menyeret pada kemaksiatan, seorang hamba diperintahkan untuk bertahan, bertawakal, dan terus berharap pada pertolongan-Nya.
Allah sendiri menegaskan bahwa tidak akan memberikan ujian kepada manusia di luar batas kemampuannya. Artinya, setiap kesulitan yang datang sebenarnya sudah berada dalam kapasitas hamba untuk menghadapinya.
Jika ujian terasa begitu berat, maka di situlah Allah akan menghadirkan pertolongan-Nya.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Inshirah ayat 5-6
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
Artinya: Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
Ayat ini bukan janji kosong, melainkan kepastian bahwa kelapangan selalu menyertai kesempitan.
Namun, sabar boleh bahkan harus memiliki batas ketika berhadapan dengan kezaliman. Islam membolehkan seseorang mencari bantuan, memperjuangkan keadilan, dan mengambil langkah untuk melindungi diri tanpa harus merasa bersalah karena dianggap “tidak sabar”.
Belajar Kesabaran dari Nabi Yaqub
Kisah Nabi Yaqub ‘alaihis salam dalam Surah Yusuf mengajarkan makna sabar yang paling dalam.
Ketika menghadapi kenyataan pahit kehilangan putranya, beliau berkata dalam Surah Yusuf ayat 83, bahwa kesabaran yang dipilihnya adalah sabarun jamil yaitu sabar yang indah, tanpa keluhan kepada manusia.
Kesedihan itu begitu berat hingga matanya memutih karena terlalu banyak menangis, sebagaimana disebutkan dalam Surah Yusuf ayat 84.
وَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰٓاَسَفٰى عَلٰى يُوْسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنٰهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيْمٌ ٨٤
Artinya: Dia (Ya‘qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Alangkah kasihan Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia adalah orang yang sungguh-sungguh menahan (amarah dan kepedihan). (QS.Yusuf: 84)
Namun, kesabaran Nabi Yaqub bukanlah kepasrahan tanpa harap. Dalam Surah Yusuf ayat 86, beliau menegaskan bahwa ia hanya mengadukan kesedihan dan dukanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨٦
Artinya: Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS.Yusuf: 86)
Jadi, itulah teladan sabar yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Yaqub dalam menghadapi ujian hidup. Dari Nabi Yaqub kita belajar, sabar bukan berarti tidak merasa sakit, tetapi tetap menjaga iman saat luka itu ada.
Baca Juga: Pacaran Mengajarkan Berpura-pura: Alasan Logis Islam Melarang Pacaran Sebagai Jalan Mencari Jodoh
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
