Beritaislam.com – Kalimat “belum berani berhijab karena masih banyak dosa” terdengar akrab di telinga. Bukan satu dua muslimah yang mengucapkannya dan menjadikannya dalil untuk menunda kewajiban berjilbab yang telah diperintahkan.
Kalimat ini jelas menyimpan kesalahan berpikir yang cukup serius, menjadikan kewajiban seolah hanya pantas bagi mereka yang dianggap ‘sempurna’ saja.
Kesalahan Berpikir Soal Kewajiban Berhijab
Dalam Islam, berhijab adalah kewajiban, bukan simbol kesucian. Allah SWT secara jelas memerintahkan perempuan beriman untuk menutup aurat.
Dalam Al-Qur’an disebutkan,
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Artinya: Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31).
Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan agar perempuan beriman mengulurkan jilbabnya supaya mudah dikenali dan terjaga yang terdapat dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 59. Perintah ini tidak disertai syarat harus bersih dari dosa terlebih dahulu.
Kewajiban tetaplah kewajiban, siapa pun pelakunya. Selama seorang perempuan adalah muslimah, berakal, dan balig, maka perintah berhijab tetap berlaku, meskipun ia merasa masih jauh dari kata baik.
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa seseorang harus suci dulu baru boleh taat. Justru ketaatan itulah jalan untuk mendekat kepada Allah.
Manusia diciptakan dengan kelemahan. Tidak ada satu pun yang luput dari dosa, apalagi manusia biasa yang masih belajar dan berproses.
Jika berhijab harus menunggu dosa habis, maka sampai kapan kewajiban itu akan ditunaikan? Menunggu sempurna sama saja menunggu sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar datang.
Berhijab bukan pengumuman bahwa seseorang sudah salehah, melainkan bentuk ketaatan yang sedang diusahakan.
Dosa bukan alasan untuk menjauh dari perintah Allah, tetapi alasan untuk lebih dekat dan memperbaiki diri. Karena sejatinya, hijab bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kebaikan.
Kalimat belum berani berhijab karena masih banyak dosa, jelas itu adalah tipu daya setan yang ingin menjauhkan seorang muslimah dari ketaatan.
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah dia musuh. Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir [35]: 6)
Jadi, jika kamu muslimah, berakal dan telah balig maka tunaikan kewajiban berhijab sebagaimana yang Allah perintahkan.
Baca Juga: Kuliah itu Scam: Cara Elegan Muslim Menanggapi Narasi Semacam Ini
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
