Beritaislam.com – Tahukah kamu apa bahaya saat jilbab dijadikan tolak ukur akhlak? Di masyarakat, jilbab sering kali dilebeli sebagai standar akhlak. Seseorang yang berjilbab di ekspentasikan sebagai seorang yang sudah sholeha, paham agama dan sebagainya.
Akibatnya, seorang muslimah tidak hanya dituntut untuk taat secara syariat, tetapi juga dituntut tampil tanpa cela. Cara pandang seperti ini terdengar seolah menjaga moral, padahal justru menyimpan banyak dampak berbahaya yang jarang disadari. Berikut beberapa bahaya saat jilbab dijadikan tolak ukur akhlak.
Bahaya saat Jilbab Dijadikan Tolak Ukur Akhlak
Pertama, akan banyak muslimah yang takut menggunakan jilbab. Dan terus menunda untuk menggunakan jilbab karena merasa belum layak dan merasa takut akan ekspentasi serta tekanan sosial yang ada.
Jilbab akhirnya dipersepsikan sebagai “atribut orang baik”, bukan sebagai kewajiban. Ketakutan akan omongan orang, cibiran, dan tuntutan untuk selalu sempurna membuat sebagian muslimah memilih menunda ketaatan, padahal yang Allah perintahkan adalah taat, bukan menunggu pantas.
Kedua, akan banyak orang yang salah paham dengan Islam, hanya karena melihat satu muslimah berjilbab yang memiliki akhlaknya tidak baik. Kalimat semacam, “padahal sudah berjilbab tapi kelakuannya kayak gitu.”
Ketika jilbab dijadikan tolok ukur akhlak, kesalahan individu sering dianggap sebagai kegagalan ajaran. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa simbol ketaatan otomatis menghapus kemungkinan manusia berbuat salah. Yang keliru adalah perilakunya, bukan syariatnya.
Ketiga, akan banyak orang yang menjadikan jilbab sebagai tameng untuk menutupi sifat aslinya. Contoh nyata yang sering kita lihat, saat para koruptor ditangkap, mereka tiba-tiba menggunakan jilbab untuk menarik simpati masyarakat dan memperbaiki citra diri yang buruk.
Dalam kondisi ini, jilbab tidak lagi dipahami sebagai kewajiban kepada Allah, melainkan alat pencitraan untuk kepentingan duniawi.
Menjadikan jilbab sebagai tolok ukur akhlak bukan hanya menyederhanakan makna syariat, tapi juga membuka ruang kemunafikan, ketakutan, dan salah paham. Ingatlah bahwa jilbab adalah kewajiban sebagaimana yanga da dalam surah An-Nur ayat 31,
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Artinya: Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31).
Jadi, itulah beberapa bahaya saat jilbab dijadikan tolak ukur akhlak seorang muslimah. Ingatlah bahwa jilbab itu kewajiban dan bukan pengumuman bahwa muslimah yang mengunakannya sudah pasti sholeha, melainkan ini salah satu cara muslimah menjadi lebih baik.
Baca juga: Padahal Pakai Jilbab, Tapi Kelakuannya Gitu: Ketika Kewajiban Dibenturkan Dengan Ekspektasi Manusia
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
