Beritaislam.com – Tidak sedikit muslimah yang sebenarnya ingin berjilbab, tetapi langkahnya tertahan oleh rasa takut. Takut dinilai munafik, takut dicap sok salehah, takut dianggap tidak konsisten karena akhlak dan perilakunya belum sepenuhnya baik.
Ketakutan ini akhirnya membuat sebagian muslimah memilih menunda, bahkan meninggalkan kewajiban berjlbab, demi menghindari penilaian manusia.
Takut Dicap Munafik Karena Menggunakan Jilbab
Takut penilaian manusia lalu meninggalkan kewajiban berjilbab, perkara itu justru bisa masuk ke dalam riya. Ketika seseorang tidak jadi melakukan ketaatan karena khawatir dilihat, dibicarakan, atau dinilai orang lain, maka fokusnya bukan lagi pada Allah, melainkan pada pandangan manusia.
ﺗَﺮْﻙُ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺭِﻳَﺎﺀٌ ﻭَﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺷِﺮْﻙٌ
“Meninggalkan suatu Amal karena manusia termasuk riya’ dan beramal karena manusia termasuk syirik .” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 23:174)
Riya bukan hanya saat beribadah demi pujian, tetapi juga saat meninggalkan ketaatan karena takut omongan orang.
Sebaliknya, akhlak yang masih belum baik tetapi tetap berjilbab bukanlah kemunafikan. Itu adalah upaya untuk menaati perintah Allah SWT yang memang wajib.
Munafik adalah ketika iman dan amal sengaja dipertentangkan dengan niat menipu, bukan ketika seseorang sedang berproses memperbaiki diri.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
Artinya: ” Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya mencari karena dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju .” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika seorang muslimah berjilbab dengan niat menaati Allah, maka apa yang ia kenakan adalah bentuk ketaatan, meski akhlaknya masih perlu diperbaiki.
Berjilbab tidak menuntut pemakainya sempurna, tetapi menuntut ketaatan. Takut dicap munafik lalu meninggalkan kewajiban bukanlah solusi.
Justru tetap berjilbab sambil terus memperbaiki diri adalah jalan yang lebih jujur dan lebih dekat kepada maksud syariat.
Baca Juga: Menikahi Perempuan yang Belum Berjilbab: Siap dengan Risikonya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
