Beritaislam.com – Dalam perjalanan ketaatan, banyak muslimah terjebak pada satu anggapan keliru, harus menjadi baik dulu baru boleh berjilbab.
Padahal, ketaatan tidak pernah mensyaratkan kesempurnaan. Menggunakan jilbab adalah kewajiban bagi muslimah berakal dan telaah balig seperti yang tertera dalam Al-Quran surah An-Nur ayat 31.
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Artinya: Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31).
Jilbab justru sering menjadi pintu awal untuk belajar taat, bukan hadiah bagi mereka yang merasa sudah layak.
Proses Belajar Menggunakan Jilbab Tanpa Takut Penilaian Manusia
Langkah awal yang penting adalah memahami sepenuhnya mengenai jilbab, mulai dari hukumnya, syaratnya, hingga alasan mengapa muslimah diperintahkan mengenakannya.
Jilbab bukan sekadar simbol, tetapi perintah langsung dari Allah. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 59, Allah memerintahkan para perempuan mukmin untuk mengulurkan jilbab mereka agar dikenali dan tidak diganggu.
Ayat ini menunjukkan bahwa jilbab adalah bentuk perlindungan sekaligus identitas ketaatan, bukan standar kesempurnaan akhlak.
Setelah memahami ilmunya, proses berikutnya adalah mulai membenahi diri dari hal-hal kecil. Tidak langsung sempurna bukanlah masalah.
Mulai dengan meninggalkan pakaian yang ketat, pakaian yang nerawang, lalu perlahan belajar menutup aurat dengan lebih baik. Diiringi dengan belajar ilmu agama sedikit demi sedikit, proses ini akan terasa lebih ringan dan terarah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meski sedikit.
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini menegaskan bahwa proses bertahap jauh lebih bernilai daripada menunggu sempurna tapi tidak melangkah.
Dalam proses ini, lingkungan juga sangat berpengaruh. Memperbanyak ikut kajian, mencari lingkungan yang baik, dan berkumpul dengan sesama muslimah dapat membantu menjaga istiqamah. Lingkungan yang sehat akan menguatkan, bukan menghakimi.
Ketika melakukan kesalahan, sikap yang benar adalah bertaubat, bukan menyalahkan jilbab. Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Dia Maha Menerima taubat hamba-hamba-Nya.
Adapun perasaan tidak pantas memakai jilbab karena merasa banyak dosa, itu bukan suara iman, melainkan bisikan setan yang ingin menjauhkan dari ketaatan.
Saat perasaan itu muncul, memperbanyak istighfar adalah sikap yang tepat. Allah berfirman bahwa setan hanya bertugas menakut-nakuti manusia agar menjauh dari kebenaran. Sedangkan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
Artinya: “Setiap anak Adam adalah orang yang berdosa dan sebaik-baiknya, orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat. (HR. At-Tirmidzi).
Belajar taat tanpa menunggu sempurna adalah kunci. Jilbab bukan akhir dari perjalanan, tetapi bagian dari proses panjang menuju ketaatan yang lebih utuh.
Baca Juga: Bahaya Saat Jilbab Dijadikan Tolak Ukur Akhlak yang Sering Terjadi di Masyarakat
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
