Beritaislam.com – Di media sosial sering kali kita melihat banyak orang berbuat salah yang berujung dihujat. Namun, tidak jarang muslimah berjilbab, mendapat hujatan yang berlipat ganda dan menyerang ranah personal hingga keyakinan.
Tekanan sosial semacam ini bukan muncul tanpa sebab. Ada konstruksi cara pandang di masyarakat yang membuat muslimah berjilbab berada dalam posisi yang lebih rentan saat berbuat salah, terutama di ruang digital yang minim empati.
Penyebab Muslimah Berjilbab Lebih Parah Dihujat Saat Berbuat Salah
Salah satu penyebab utamanya adalah stereotip yang terlanjur melekat. Perempuan yang mengenakan jilbab kerap dilabeli sebagai sosok yang sudah salehah, paham agama, dan dekat dengan Allah SWT.
Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi tersebut, kesalahan kecil dianggap sebagai dosa besar yang mencoreng simbol jilbab, seolah kain di kepala ikut bertanggung jawab atas perilaku seseorang.
“Mending lepas jilbab aja ih, malu-maluin,” perkataan semacam ini sering kali muncul saat muslimah berjilbab melakukan kesalahan.
Selain itu, jilbab membuat identitas agama Islam menjadi sangat terlihat. Akibatnya, kesalahan personal muslimah berjilbab sering kali tidak berhenti pada individu, tetapi melebar menjadi serangan terhadap ajaran Islam itu sendiri.
Komentar bernada “pantas saja” atau “itu contoh Islam” kerap muncul, menunjukkan bagaimana agama ikut terseret dalam kesalahan yang bersifat pribadi.
Di sisi lain, fenomena ini juga kerap dijadikan pembenaran oleh sebagian perempuan yang belum berjilbab. Kesalahan muslimah berjilbab digunakan sebagai alasan defensif bahwa tidak berhijab adalah pilihan aman karena “belum baik”, seakan jilbab menuntut kesempurnaan moral sejak hari pertama dikenakan.
Padahal, semua realitas tersebut tidak seharusnya membuat seseorang takut menjalankan kewajiban yang telah diperintahkan Allah SWT.
Allah SWT berfirman,
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Artinya: Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31).
Kesalahan tetaplah kesalahan individu, bukan alasan untuk menghakimi iman atau menunda kewajiban yang sudah jelas perintahnya.
Jadi, itulah penyebab wanita muslimah lebih parah dihujat saat berbuat kesalahan. Ingatlah bahwa jilbab bukanlah simbol kesucian mutlak, melainkan bentuk ketaatan yang berjalan beriringan dengan proses belajar dan memperbaiki diri dan upaya menaati salah satu perintahnya.
Baca Juga:
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
