Beritaislam.com – Bagaimana jadinya jika ilmu tidak mengubah akhlak seseorang? Ilmu seharusnya menjadi cahaya yang menuntun perilaku dan membentuk akhlak. Namun realitanya, tidak sedikit orang yang berilmu tinggi tetapi sikapnya justru menyakitkan, merasa paling benar, dan mudah merendahkan orang lain.
Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan: jika ilmunya banyak, mengapa akhlaknya tidak ikut membaik? Islam memandang kondisi ini bukan sebagai kegagalan ilmu, melainkan kegagalan dalam menyikapi ilmu itu sendiri.
Penyebab Ilmu Tidak Mengubah Akhlak
Pertama, niat mencari ilmu yang keliru. Ilmu yang dicari bukan untuk mendekat kepada Allah, melainkan demi pengakuan, jabatan, atau kepentingan dunia semata.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada orang yang mempelajari ilmu agama bukan karena Allah, tetapi untuk tujuan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga kelak di akhirat.
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Siapa orang yang mempelajari satu ilmu dari ilmu-ilmu yang mesti dipelajari karena Allah azza wajalla seperti ilmu syar’i tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi maka dia tidak akan bisa mencium baunya surga pada hari kiamat”. (HR. Daud).
Hadis ini menunjukkan betapa niat sangat penting. Niat yang salah akan berujung pada kebinasaan. Jika niat sudah melenceng sejak awal, ilmu kehilangan daya untuk membersihkan hati dan memperbaiki akhlak.
Kedua, kurangnya keberkahan dalam proses menuntut ilmu. Ilmu bukan hanya soal materi yang dipahami, tetapi juga adab selama belajar. Kurang hormat kepada guru, meremehkan proses, hingga kecurangan dalam menuntut ilmu dapat menghilangkan keberkahannya.
Padahal dalam Al-Quran, Allah menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ilmu yang tidak berkah sulit memengaruhi akhlak, meski terlihat banyak secara teori.
Ketiga, ilmu digunakan untuk memandang rendah orang lain. Inilah penyakit kesombongan yang paling halus.
Allah dengan tegas menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong. Allah SWT berfirman,
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ١٨
Artinya: Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (QS. Luqman: 18).
Tidak seharusnya manusia merasa sombong dengan ilmu yang didapatkannya, karena sejatinya ilmu itu pun milik Allah yang bisa kapan saja Allah ambil dengan sangat mudah.
Ilmu yang dimiliki haruslah melahirkan kerendahan hati, bukan menjadi alat pembanding dan penghakiman. Ketika ilmu tidak melahirkan rasa takut kepada Allah, maka ia gagal menjalankan fungsi utamanya.
Ilmu yang benar akan mendekatkan kepada Allah dan melembutkan akhlak. Jika ilmu justru membuat hati keras, boleh jadi yang perlu diperbaiki bukan ilmunya, tetapi niat, adab, dan cara mengamalkannya.
Baca Juga: Cara Meluruskan Niat Menyambut Ramadhan: Lakukan Hal Sederhana Ini
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
