Berita Islam Terkini
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Donasi
Berita Islam TerkiniBerita Islam Terkini
Aa
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Cari Berita
  • Beranda
  • Info Islami
  • Hukum Islam
  • Tokoh
  • Keutamaan
  • Khazanah
  • Hikmah
Follow US

Home - Fenomena Polisi Iman di Media Sosial - Fenomena Polisi Iman di Media Sosial: Salahkah?

ArtikelKhazanahOpini

Fenomena Polisi Iman di Media Sosial: Salahkah?

Annisa Adelina
Last updated: 2026/01/26 at 2:52 PM
Annisa Adelina
Share
Fenomena Polisi Iman di Media Sosial: Salahkah?
SHARE

Beritaislam.com – Media sosial hari ini bukan hanya ruang berbagi cerita, tetapi juga arena dakwah. Di satu sisi, ini adalah peluang besar untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. 

Namun di sisi lain, muncul fenomena yang sering disebut sebagai “polisi iman” yang dikenal sebagai orang-orang yang dengan mudah menghakimi, menilai iman, bahkan memvonis dosa orang lain di ruang publik. Pertanyaannya, apakah mengingatkan seperti itu benar dalam Islam?

Fenomena Polisi Iman di Media Sosial

Dalam Islam, saling menasihati memang merupakan kewajiban. Allah memerintahkan umat Islam untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Allah SWT berfirman,

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ۝٣

Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (QS. Al-‘Asr: 3). 

Amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari ajaran Islam yang tidak bisa diabaikan. Artinya, mengingatkan kesalahan bukanlah hal yang keliru secara prinsip.

Namun, masalahnya bukan pada apa yang disampaikan, melainkan bagaimana cara menyampaikannya. Dakwah dalam Islam tidak pernah dilepaskan dari adab dan akhlak.

Allah memerintahkan Nabi Muhammad SWT untuk menyeru manusia dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun. 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝١٢٥

Artinya: Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125). 

Ketika dakwah dilakukan dengan nada merendahkan, menghakimi, atau mempermalukan, pesan kebenaran justru kehilangan ruhnya. 

Fenomena polisi iman sering kali membuat orang yang didakwahi merasa tidak pantas, takut, bahkan menjauh dari agama. Padahal tujuan dakwah adalah mendekatkan manusia kepada Allah, bukan membuat mereka merasa terbuang. 

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang lembut dalam menasihati. Dalam banyak riwayat, beliau memilih menegur dengan cara umum, bukan menunjuk dan mempermalukan individu tertentu.

Selain itu, Islam juga melarang merasa diri paling suci. Allah mengingatkan agar manusia tidak menganggap dirinya paling bersih, karena Allah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa. 

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ ۝٣٢

Artinya: (Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa. (QS. An-Najm: 32). 

Sikap merasa paling benar sering kali menjadi akar dari cara berdakwah yang keras dan tidak berempati.

Mengingatkan dalam Islam bukan soal keras atau lantang, tetapi soal niat dan akhlak. Ketika dakwah kehilangan adab, yang tersisa hanyalah kebisingan yang berpotensi menjauhkan manusia dari agama itu sendiri.

Baca Juga: Ketika Iman Naik Turun: Apa yang Harus Dilakukan Seorang Muslim?

Editor: Annisa Adelina Sumadillah.

TAGGED: Fenomena Polisi Iman di Media Sosial, menasehati dalam Islam
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Previous Article Mengapa Niat Menjadi Penentu Segalanya Dalam Islam? Mengapa Niat Menjadi Penentu Segalanya Dalam Islam?
Next Article Mau Hijabin Hati Dulu: Dampak Buruk Menunda Kewajiban Mau Hijabin Hati Dulu: Dampak Buruk Menunda Kewajiban

Recent Posts

  • Hukum Menelan Dahak Saat Puasa Ramadhan, Apakah Membatalkan Puasanya? Inilah Pandangan Islam!
  • Kerja Keras Tanpa Henti, Namun Hati Malah Terasa Hampa dan Kosong? Inilah Penjelasannya!
  • Menikah Saat Bulan Ramadhan: Boleh atau Tidak dalam Hukum Islam?
  • Puasa Ramadhan Tanpa Sahur, Bagaimana Hukumnya dalam Islam? Apakah Puasanya Tetap Sah?
  • Fenomena Mokel Saat Puasa Ramadhan Tanpa Uzur Syar’i, Inilah Pandangan Islam!

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

You Might Also Like

Viral Tarawih Secepat Kilat, Apakah Sah dalam Islam? Berikut Penjelasannya
ArtikelHukum Islam

Viral Tarawih Secepat Kilat, Apakah Sah dalam Islam? Berikut Penjelasannya

6 Min Read
Ingin Hidup Sehat Saat Puasa Seperti Rasulullah? Berikut Tips dan Teladannya
ArtikelInfo Islami

Ingin Hidup Sehat Saat Puasa Seperti Rasulullah? Berikut Tips dan Teladannya

4 Min Read
Adakah Batas Waktu Gosok Gigi Saat Puasa? Penjelasan Menurut Islam
ArtikelInfo Islami

Adakah Batas Waktu Gosok Gigi Saat Puasa? Penjelasan Menurut Islam

3 Min Read
Melakukan Santet Saat Ramadhan, Apakah Masih Bekerja? 
Artikel

Melakukan Santet Saat Ramadhan, Apakah Masih Bekerja? 

4 Min Read

Merentangkan Sayap Islam: Menyajikan Berita Terkini dari Berbagai Penjuru

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?