Beritaislam.com – Pernah dengar kata menikah menyempurnakan separuh agama? Di tengah perubahan gaya hidup dan pandangan tentang pernikahan, Islam memposisikan menikah bukan sekadar urusan sosial atau budaya, melainkan bagian penting dari kesempurnaan agama.
Lantas apa sih yang menyebabkan mengapa menikah dapat menjadikan seseorang menyempurnakan separuh agamanya?
Kenapa Menikah Menyempurnakan Separuh Agama?
Rasulullah SAW bersabda,
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي
Artinya: “Jika seseorang telah menikah, berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya.” (HR. Baihaqi).
Hadis ini menjadi landasan kuat mengapa dikatakan menikah menyempurnakan separuh agama.
Para ulama menjelaskan bahwa sumber utama rusaknya agama seseorang sering kali berasal dari dua hal besar, yaitu perut dan kemaluannya. Keduanya berkaitan langsung dengan syahwat dan kebutuhan dasar manusia.
Dalam konteks ini, menikah menyempurnakan separuh agama karena pernikahan menjadi benteng yang sah dan halal untuk menjaga kehormatan diri, khususnya dalam urusan kemaluan. Dengan menikah, seseorang telah menutup satu pintu besar kerusakan agama yang sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa.
Menikah menyempurnakan separuh agama juga karena pernikahan melatih tanggung jawab, kesabaran, dan pengendalian diri. Menikah merupakan ibadah terpanjang yang harus dilakukan dua insan. Hubungan suami istri bukan hanya soal cinta, tetapi juga amanah.
Dari sinilah seseorang belajar menahan ego, menjaga pandangan, serta mengelola keinginan sesuai tuntunan syariat. Semua itu berkontribusi besar dalam menjaga kualitas iman.
Namun, hadis tersebut juga mengingatkan bahwa setelah menikah, masih ada separuh agama lain yang harus dijaga dengan takwa. Artinya, menikah bukan garis akhir kesalehan, melainkan awal dari perjuangan iman yang lebih luas.
Dengan demikian, menikah menyempurnakan separuh agama bukan jaminan otomatis masuk surga, tetapi peluang besar untuk menjaga diri agar tetap berada di jalan Allah.
Baca Juga: Percuma Ngaji Kalau Masih Maksiat: Benarkah?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
