Beritaislam.com – Di tengah narasi tentang muslimah tangguh, sabar, dan selalu kuat menghadapi apa pun, ada satu hal yang sering terlupakan, menjadi muslimah bukan berarti harus selalu terlihat baik-baik saja.
Banyak perempuan muslim merasa terbebani oleh standar tidak tertulis untuk terus kuat, diam, dan menerima, seolah air mata adalah tanda lemahnya iman. Padahal, Islam tidak pernah menuntut seorang hamba untuk mematikan rasa lelahnya.
Menjadi Muslimah yang Baik
Seorang muslimah adalah manusia seutuhnya, bukan malaikat. Ia punya hati yang bisa rapuh, pikiran yang bisa penat, dan perasaan yang bisa luka.
Menjadi muslimah yang baik bukan berarti tidak pernah menangis, tidak pernah mengeluh, atau selalu mampu berdiri tegar dalam setiap keadaan. Justru mengakui lelah dan kelemahan adalah bagian dari kejujuran diri di hadapan Allah.
Banyak muslimah merasa bersalah ketika merasa capek secara mental atau emosional. Mereka takut dicap kurang iman, kurang tawakal, atau kurang kuat sebagai perempuan beragama. Padahal merasa sedih itu biasa dan senormalnya manusia pasti merasakan perasaan tersebut.
Saat kita merasa sedih, seolah tidak ada jalan keluar, maka ingatlah bahwa Allah SWT selalu bersama kita dan pertolongan Allah SWT sangat dekat.
Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam peristiwa Nabi Muhammad SAW saat hijrah dan saat dikejar kaum kafir Quraisy.
اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٤٠
Artinya: Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. At- Taubah: 40).
Muslimah yang baik tahu kapan harus bertahan, tapi juga tahu kapan harus berhenti sejenak. Ia paham bahwa menangis di sepertiga malam bukan tanda kalah, melainkan bentuk kedekatan dengan Allah.
Mengeluh kepada manusia mungkin dibatasi, tetapi mengadu kepada Allah justru dianjurkan seperti yang dicontohkan Nabi Yaqub AS.
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨٦
Artinya: Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS.Yusuf: 86).
Dari sanalah hati yang lelah perlahan dipulihkan. Menjadi muslimah tidak harus selalu kuat di mata manusia. Tidak apa-apa terlihat rapuh, selama tetap jujur pada iman. Tidak apa-apa meminta bantuan, selama tidak putus harapan kepada Allah.
Karena kekuatan sejati seorang muslimah bukan terletak pada seberapa sering ia tersenyum menutupi luka, tetapi pada keberaniannya untuk tetap kembali kepada Allah, bahkan saat hatinya paling lemah.
Muslimah yang baik bukan yang tak pernah runtuh, melainkan yang selalu bangkit kembali, meski dengan air mata.
Baca Juga: Percuma Ngaji Kalau Masih Maksiat: Benarkah?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
