Beritaislam.com – Di tengah maraknya perbincangan soal moral, agama, dan kesalehan di ruang publik, ada satu fenomena yang semakin terasa: dosa orang lain justru lebih menarik untuk dibahas dibandingkan usaha taubat dari kesalahan diri sendiri. Ironisnya, sikap ini sering hadir atas nama kepedulian dan kebenaran.
Dalam Islam, fokus utama seorang hamba bukanlah menghitung dosa orang lain, melainkan membersihkan dirinya sendiri. Taubat bukan sekadar ucapan, tapi kesadaran mendalam bahwa manusia tidak pernah luput dari salah.
Penyebab Dosa Orang Lain Lebih Menarik dari Taubat Sendiri
Pertama, karena sudah merasa baik sehingga tidak sadar akan dosa dan kesalahan sendiri. Perasaan paling aman justru muncul ketika seseorang merasa dirinya lebih saleh dibanding orang lain. Inilah bibit kesombongan yang halus.
Rasulullah SAW bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya, ‘Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Swt. itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim).
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesombongan merupakan tindakan menolak kebenaran dan merendahkan orang lain,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. (HR. Muslim).
Kedua, karena kurangnya muhasabah dan introspeksi diri. Mengomentari kesalahan orang lain terasa lebih mudah daripada menundukkan kepala dan mengakui kesalahan sendiri.
Padahal Allah berfirman bahwa setiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diperbuatnya.
كُلُّ نَفْسٍ ۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ ٣٨
Artinya: Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan,
Muhasabah membuat seseorang sibuk memperbaiki diri, bukan mengawasi aib sesama. Menasihati sesama muslim itu penting dan dianjurkan, tapi tidak lantas membuat diri lalai terhadap menasehati diri sendiri.
Ketiga, keinginan mendapatkan validasi dari orang lain. Dengan menyoroti dosa orang lain, sebagian orang merasa lebih unggul dan mendapat pengakuan sosial.
Padahal Nabi SAW bersabda bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang disibukkan oleh aib dirinya sendiri hingga tak sempat mengurusi aib orang lain.
طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَن عُيُوبِ النَّاسِ
Artinya: Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR Ad-Dailami).
Demikianlah, penyebab kenapa terkadang kebanyakan orang lebih tertarik mengurusi dosa orang lain, hingga lupa akan dirinya sendiri. Dengan mengetahui penyebabnya, kita diharapkan dapat menjaga dari perbuatan-perbuatan yang malah menjauhkan diri dari ridho Allah SWT.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa taubat seharusnya lebih menarik daripada gosip dosa.
Baca Juga: “Harus Pakai Masya Allah Biar Gak Kena Ain”: Benarkah?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
