Beritaislam.com – Di ruang sosial, terutama di media sosial, kesalehan sering kali direduksi menjadi soal penampilan. Cara berpakaian, simbol religius, hingga gaya bicara kerap dijadikan standar utama untuk menilai seberapa saleh seseorang.
Fenomena ini membuat agama terlihat sederhana di permukaan, namun justru menyimpan persoalan yang lebih dalam. Kesalehan yang seharusnya tumbuh dari hati, perlahan bergeser menjadi citra yang dinilai oleh manusia.
Islam tidak pernah menafikan pentingnya syariat dalam penampilan. Namun ketika penampilan dijadikan satu-satunya tolok ukur, dampak sosial dan spiritual pun tak terelakkan.
Dampak Jika Penampilan Dijadikan Ukuran Kesalehan
Pertama, akan muncul banyak “ruba berbulu domba”. Ada orang yang berpenampilan saleh bukan karena kesadaran iman, melainkan demi menipu, menjaga citra, atau mencari validasi manusia.
Penampilan dijadikan tameng untuk menutupi akhlak yang belum tentu sejalan. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amalnya.
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kalian. (HR. Muslim).
Ketika standar saleh hanya kulit luar, kejujuran batin menjadi hal yang terpinggirkan.
Kedua, orang yang masih setengah-setengah justru merasa takut untuk terlihat taat secara lahiriah. Contohnya, sebagian perempuan takut mengenakan jilbab karena khawatir dicap “sok alim” atau dituntut sempurna secara moral. Padahal menutup aurat adalah kewajiban.
Allah berfirman dalam Surah An-Nur ayat 31,
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Artinya: Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)
Ketika jilbab dibebani ekspektasi sosial, ketaatan malah terasa menakutkan.
Ketiga, orang yang sudah berpenampilan sesuai syariat sering mendapat tekanan sosial yang besar. Mereka dianggap harus selalu lembut, sabar, tidak boleh salah, dan wajib menjadi teladan di semua aspek.
Padahal sangat mungkin mereka baru belajar, masih berproses, dan masih jatuh bangun dalam taat. Tekanan ini justru berpotensi mematahkan semangat hijrah.
Kesalehan dalam Islam adalah perjalanan, bukan kostum. Penampilan memang penting, tapi menjadikannya satu-satunya ukuran justru bisa menjauhkan manusia dari makna taat yang sesungguhnya.
Baca Juga: Bahaya Saat Jilbab Dijadikan Tolak Ukur Akhlak
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
