Beritaislam.com– Dalam kehidupan beragama, rasa takut kepada neraka sering kali menjadi emosi yang paling dominan. Banyak orang disiplin beribadah, menjaga rutinitas salat dan puasa, namun hatinya terasa kering. Hubungan dengan Allah terasa seperti kewajiban yang berat, bukan ikatan cinta yang menenangkan.
Fenomena ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan dibentuk sejak sangat dini. Tak sedikit dari kita tumbuh dengan narasi agama yang menakutkan. Salah sedikit ancamannya neraka, lalai sedikit konsekuensinya siksa. Akhirnya, agama hadir sebagai tekanan, bukan pelukan.
Alasan Takut Neraka tapi Lalai Mencintai Allah
Pertama, pondasi agama sejak kecil dibangun dengan pendekatan ketakutan. Banyak anak diperkenalkan pada salat, puasa, dan ibadah lain dengan ancaman: jika tidak salat masuk neraka, jika melanggar akan disiksa. Padahal Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ketika sejak kecil yang ditanamkan hanya rasa takut, maka sampai dewasa ibadah dijalani demi menghindari hukuman, bukan karena rindu dan cinta kepada Allah.
Kedua, minimnya pengenalan tentang kasih sayang Allah. Anak-anak jarang diajak mengenal Allah sebagai Tuhan yang dekat, yang mendengar doa, yang memahami lelah hamba-Nya. Akibatnya, konsep mencintai Allah tidak pernah benar-benar tumbuh.
Tanpa pengenalan ini, ibadah menjadi rutinitas kosong yang kering makna.
Ketiga, ibadah diposisikan sebagai beban, bukan kebutuhan jiwa. Karena terbiasa ditekan oleh rasa takut, banyak orang merasa bersalah terus-menerus, tetapi tidak pernah merasa dekat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang.
اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ
Artinya: Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas. (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa relasi dengan Allah sejatinya dibangun di atas cinta, bukan sekadar ancaman.
Jadi, itulah alasan mengapa banyak orang yang lebih takut neraka ketimbang cinta Allah. Takut neraka memang bagian dari iman, tetapi mencintai Allah adalah ruhnya. Tanpa cinta, ibadah mudah melelahkan. Dengan cinta, ketaatan justru menenangkan.
Baca Juga: Ketika Ukuran Kesalehan Ditentukan oleh Penampilan: Apa Dampaknya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
