Beritaislam.com – Isu ketaatan istri kepada suami sering kali dipahami secara sempit. Di sebagian masyarakat, kata “istri harus selalu nurut sama suami” dimaknai sebagai kewajiban patuh tanpa syarat, bahkan ketika perintah itu terasa memberatkan atau bertentangan dengan ajaran agama. Akibatnya, ajaran Islam kerap disalahpahami seolah melegitimasi ketidakadilan dalam rumah tangga.
Padahal, Islam menempatkan pernikahan sebagai hubungan yang dibangun di atas keadilan, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah. Ketaatan istri kepada suami bukanlah ketaatan buta, melainkan bagian dari ketaatan bersama kepada Allah SWT.
Istri Harus Selalu Nurut Sama Suami?
Istri wajib taat kepada suami selama perintah tersebut tidak melanggar syariat. Dalam Islam, ketaatan kepada suami berada dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Artinya, ketika suami memerintahkan sesuatu yang halal, baik, dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka ketaatan istri bernilai ibadah. Ketaatan ini bukan bentuk penindasan, melainkan kerja sama untuk menjaga rumah tangga tetap berada di jalan yang diridai Allah.
Kondisi istri boleh menolak atau membantah jika perintah suami bertentangan dengan syariat. Islam tidak mengajarkan istri untuk patuh pada kemaksiatan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Sang Pencipta.
لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Tidak ada ketaatan kepadamakhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla .” (HR. Ahmad).
Contohnya, ketika suami meminta istri menyiapkan makan siang di bulan Ramadan padahal tidak ada uzur syar’i, istri berhak menolak karena hal tersebut bertentangan dengan kewajiban puasa.
Dalam kondisi seperti ini, menolak justru menjadi bentuk ketaatan kepada Allah. Sikap ini bukan pembangkangan, melainkan menjaga nilai agama dalam rumah tangga.
Islam memosisikan suami sebagai pemimpin, bukan penguasa absolut. Kepemimpinan itu harus dijalankan dengan tanggung jawab, keteladanan, dan ketakwaan.
Sementara istri diposisikan sebagai pendamping yang memiliki akal, iman, dan hak untuk menjaga dirinya dari perintah yang melanggar agama.
Jadi, istri tidak dituntut untuk selalu nurut dalam segala hal, melainkan taat dalam kebaikan. Karena dalam Islam, ketaatan tertinggi tetap hanya kepada Allah SWT.
Baca Juga: Percuma Ngaji Kalau Masih Maksiat: Benarkah?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
