Beritaislam.com – Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan hidup, banyak orang justru merasa menjadi pribadi yang baik terasa semakin berat.
Bukan karena kebaikan itu berubah makna, melainkan karena lingkungan dan zaman menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Sesuatu yang dulu terasa jelas batasannya, kini menjadi abu-abu dan sering kali dinormalisasi.
Penyebab Menjadi Baik Terasa Lebih Berat di Zaman Sekarang
Salah satu penyebab utama mengapa menjadi baik terasa berat adalah karena pintu kemaksiatan kini terbuka sangat lebar, bahkan berada dalam genggaman tangan.
Lewat sebuah ponsel, seseorang bisa terlibat riba tanpa sadar, mengakses zina secara visual, melakukan penipuan, menyebarkan kebohongan, hingga terjerumus pada dosa-dosa besar lainnya tanpa perlu keluar rumah.
Dulu, untuk bermaksiat dibutuhkan usaha, niat, dan langkah nyata. Sekarang, cukup dengan satu sentuhan layar.
Media sosial juga memperparah keadaan. Hal-hal yang jelas salah dalam Islam sering dibungkus dengan narasi kebebasan, gaya hidup modern, atau sekadar “semua orang juga melakukannya”.
Akibatnya, orang yang ingin menjaga diri justru merasa asing, dianggap berlebihan, bahkan dicap sok suci. Tekanan sosial inilah yang membuat banyak orang merasa lelah saat berusaha istiqamah.
Selain itu, dosa kini sering kehilangan rasa bersalah. Ketika maksiat dilakukan massal dan terus ditampilkan, hati perlahan menjadi tumpul.
Apa yang seharusnya membuat takut justru terasa biasa saja. Di sisi lain, kebaikan menuntut perjuangan: melawan hawa nafsu, menahan diri, dan berani berbeda di tengah arus mayoritas.
Namun justru di sinilah nilai kebaikan itu diuji. Ketika menjadi baik terasa berat, pahala dan nilainya tidak pernah ringan. Allah tidak pernah menjanjikan jalan kebaikan selalu mudah, tetapi Dia menjanjikan pertolongan bagi mereka yang bersungguh-sungguh menjaga diri.
Di zaman ketika maksiat begitu mudah, bertahan dalam kebaikan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman.
Baca Juga: Mengelola Overthinking Menurut Perspektif Islam agar Hati Lebih Tenang dan Pikiran Lebih Jernih
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
