Beritaislam.com – Dalam realitas kehidupan modern, banyak keputusan besar diambil hanya berdasarkan logika, perhitungan untung rugi, dan dorongan emosi sesaat. Bahkan dengan santai ketika Allah tidak dilibatkan dalam keputusan yang diambil.
Padahal, dalam Islam, setiap pilihan hidup, idealnya bersandar pada petunjuk Allah agar arah langkah tidak melenceng dan hati tetap terjaga.
Dampak Ketika Allah Tidak Dilibatkan dalam Keputusan
Pertama, apa yang dikerjakan menjadi tidak berkah. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 88,
قَالَ يٰقَوْمِ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كُنْتُ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَرَزَقَنِيْ مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ اُخَالِفَكُمْ اِلٰى مَآ اَنْهٰىكُمْ عَنْهُۗ اِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْٓ اِلَّا بِاللّٰهِۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ ٨٨
Artinya: Dia (Syuʻaib) berkata, “Wahai kaumku, jelaskan pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahkan rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya). Aku (sebenarnya) tidak ingin berbeda sikap denganmu (lalu melakukan) apa yang aku sendiri larang. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan sesuai dengan kesanggupanku. Tidak ada kemampuan bagiku (untuk mendatangkan perbaikan) melainkan dengan (pertolongan) Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali. (QS. Hud: 88).
Ayat ini menunjukkan bahwa keberhasilan sejati bukan sekadar tercapainya target, tetapi adanya keberkahan di dalamnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa manusia itu merupakan makhluk lemah yang tidak akan bisa membawa kebaikan atau keburukan tanpa kehendak Allah SWT.
Ketika Allah tidak dilibatkan, hasil yang tampak baik di permukaan bisa terasa kosong, mudah rusak, dan tidak membawa ketenangan batin.
Kedua, pondasi yang dibangun menjadi rapuh karena tidak bersandar pada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 36,
اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَافٍ عَبْدَهٗۗ وَيُخَوِّفُوْنَكَ بِالَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖۗ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍۚ ٣٦
Artinya: Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan (sesembahan) selain Dia. Siapa yang Allah biarkan sesat tidak ada satu pun yang memberi petunjuk kepadanya.
Keputusan yang hanya bertumpu pada kemampuan diri sering kali goyah ketika diuji. Tanpa tawakal, pondasi hidup mudah runtuh saat rencana tidak berjalan sesuai harapan.
Ketiga, mudah ditimpa kekecewaan. Rasulullah SAW bersabda,
اِحْفَظِ اللّٰهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللّٰهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللّٰهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ
Artinya: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. (HR. At-Tirmidzi).
Ketika harapan sepenuhnya digantungkan pada manusia atau keadaan, kekecewaan menjadi hal yang sulit dihindari. Melibatkan Allah sejak awal membuat hati lebih lapang dalam menerima takdir, baik maupun buruk.
Ketika Allah tidak dilibatkan dalam keputusan, dampaknya bukan hanya pada hasil, tetapi juga pada ketenangan jiwa. Islam mengajarkan bahwa keputusan yang baik bukan yang paling cepat atau paling menguntungkan, melainkan yang paling dekat dengan ridha Allah.
Baca Juga: Islam KTP : Bahaya Ketika Agama Hanya Dijadikan Warisan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
