Beritaislam.com – Mencintai dunia adalah fitrah manusia. Harta, pasangan, karier, dan kenyamanan hidup memang diciptakan untuk menarik hati. Namun persoalan muncul ketika cinta kepada dunia menjadi tujuan akhir, bukan sarana.
Banyak orang kelelahan mengejar dunia, tetapi justru merasa hampa dan jauh dari Allah. Islam tidak memerintahkan umatnya membenci dunia, melainkan mengajarkan bagaimana menempatkan dunia agar tidak merusak arah cinta dalam hati.
Cinta yang tidak diarahkan akan mudah menjerumuskan. Dunia yang seharusnya membantu perjalanan akhirat justru berubah menjadi penghalang.
Karena itu, diperlukan kesadaran dan latihan hati agar cinta dunia bisa diubah menjadi cinta ilahi, tanpa harus meninggalkan kehidupan duniawi sepenuhnya.
Tips Mengubah Cinta Dunia Menjadi Cinta Ilahi
Pertama, jadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat, bukan tujuan akhir. Segala yang dimiliki di dunia baik berupa harta, jabatan, kemampuan, dan waktu, hendaknya diposisikan sebagai alat untuk mendekat kepada Allah.
Ketika seseorang bekerja, belajar, atau membangun keluarga dengan niat mencari ridha Allah, maka dunia tidak lagi mengikat hati, melainkan membantu perjalanan iman. Semua kegiatan berubah menjadi bernilai ibadah.
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya: Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah,” (HR. Bukhari)
Kedua, latih hati untuk selalu mengaitkan kenikmatan dunia dengan rasa syukur, bukan ketergantungan. Cinta dunia menjadi berbahaya ketika hati merasa tidak bisa hidup tanpanya.
Dengan membiasakan syukur, seseorang menyadari bahwa semua kenikmatan hanyalah titipan. Hati pun belajar mencintai Pemberi nikmat, bukan sekadar larut dalam nikmat itu sendiri.
Ketiga, imbangi kecintaan pada dunia dengan mengingat kefanaannya. Dunia bersifat sementara, berubah, dan mudah hilang. Kesadaran ini menjaga hati agar tidak berlebihan dalam mencintai sesuatu yang pasti ditinggalkan.
Dengan sering mengingat akhirat, cinta kepada dunia akan lebih tertata dan tidak menenggelamkan cinta kepada Allah.
Mengubah cinta dunia menjadi cinta ilahi bukan berarti menjauhi kehidupan, tetapi menata niat dan arah hati. Ketika dunia diperlakukan sebagai kendaraan, bukan tujuan, maka setiap langkah hidup bisa bernilai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Baca Juga: Mencoba Menipu Allah: Bentuk Hilah Modern yang Sering Dilakukan Gen Z
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
