Beritaislam.com – Bulan Ramadhan dikenal sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadah dan adab seorang Muslim. Di tengah semangat memperbanyak salat, puasa, dan amalan sunnah, Islam juga memberikan tuntunan agar ibadah dilakukan dengan hati yang tenang dan khusyuk.
Salah satu adab yang sering luput diperhatikan adalah anjuran untuk tidak mendahulukan salat ketika makanan sudah tersedia, khususnya saat waktu berbuka di bulan Ramadhan.
Adab Ibadah Salat di Bulan Ramadhan
Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk mendahulukan makanan yang telah tersedia sebelum salat serta menikmati makanan tanpa terburu-buru.
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila makan malam sudah tersaji, maka terlebih dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian.” (HR. Bukhari no. 672 )
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi batin dan fokus seseorang dalam beribadah. Salat yang dilakukan dalam keadaan pikiran teralihkan oleh rasa lapar justru berpotensi mengurangi kekhusyukan.
Pada bulan Ramadhan, kondisi ini sering terjadi saat waktu Maghrib tiba. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, makanan telah tersaji di hadapan, namun sebagian orang merasa ragu untuk berbuka terlebih dahulu karena ingin segera melaksanakan salat.
Padahal, dalam adab Islam, mendahulukan berbuka atau makan secukupnya justru dianjurkan agar salat dilakukan dengan lebih tenang.
Rasulullah mengajarkan keseimbangan dalam ibadah. Islam tidak menghendaki ibadah yang dilakukan dengan keterpaksaan atau menahan kebutuhan jasmani yang mendesak.
Dalam konteks Ramadhan, makan secukupnya sebelum salat bukan bentuk mendahulukan hawa nafsu, melainkan cara menjaga kualitas ibadah agar tetap khusyuk dan fokus.
Adab ini juga mengajarkan bahwa ibadah bukan sekadar mengejar gerakan lahiriah, tetapi menghadirkan hati sepenuhnya di hadapan Allah. Salat yang dilakukan dengan pikiran tertuju pada makanan berisiko kehilangan ruhnya.
Dengan memahami adab ibadah di bulan Ramadhan, seorang Muslim diharapkan mampu menempatkan setiap amalan pada porsinya. Bukan soal cepat atau lambatnya salat, melainkan bagaimana ibadah tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran, ketenangan, dan keikhlasan, sesuai tuntunan Rasulullah.
Baca Juga: Sering Sakit Kepala? Memaknai Tanda Bentuk Kasih Sayang Allah
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
