Beritaislam.com – Ratu Balqis merupakan sosok perempuan yang berpengaruh dan diabadikan dalam Al-Quran. Kecerdasanya sebagai pemimpin, dan juga kisahnya dalam perjalanan iman dari kesyirikan yang menuju tauhid. Lewat pertemuannya dengan Nabi Sulaiman AS, dirinya menjadi teladan tentang kerendahan hati dalam menerima kebenaran.
Ratu Balqis merupakan seorang pemimpin kerajaan Saba yang letaknya berada di wilayah Yaman. Negeri yang dipimpinya makmur dan memiliki kekayaan yang berlimpah serta sistem pemerintahannya yang tertata. Dalam QS. An-Naml: 23 ditunjukkan bahwa Ratu Balqis merupakan pemimpin yang memiliki kekuasaan besar dan dihormati rakyatnya.
Kemajuannya dalam bidang ekonomi dan juga politik, kerajaan tersebut masih terjerumus dalam kesyirikan. Kemajuan duniawi yang dimilikinya tidak sejalan dengan kebenaran akidah.
Surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis
Kisah mereka berdua bermula ketika burung Hud-hud yang memberi laporan kepada Nabi Sulaiman AS terkait kerajaan Saba yang masih menyembah matahari. Untuk memastikan kebenarannya, Nabi Sulaiman AS kemudian mengirimkan surat pada Ratu.
Ratu yang menerima surat tersebut kemudian mengumpulkan para pembesar kerajaan untuk bermusyawarah. Dari sikap yang diambilnya tersebut menunjukkan bahwa Balqis merupakan sosok pemimpin yang demokratis, bijaksana dan tidak otoriter. Seperti yang ditunjukkan pada QS. An-Naml: 32
قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَفْتُوْنِيْ فِيْٓ اَمْرِيْۚ مَا كُنْتُ قَاطِعَةً اَمْرًا حَتّٰى تَشْهَدُوْنِ
Artinya: “Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu urusan sebelum kamu hadir (dalam majelis ku).””
Untuk menguji Nabi Sulaiman apakah beliau seorang Nabi atau seorang raja duniawi, maka Balqis mengirimkan hadiah pada Nabi Sulaiman. Namun, hadiah tersebut ditolak olehnya untuk membuktikan bahwa dakwahnya bukan untuk sekedar mencari harta. Lewat aksi tersebut semakin meyakinkan Ratu Balqis tentang kebenaran risalah Nabi Sulaiman.
Salah satu peristiwa paling menakjubkan yaitu ketika Nabi Sulaiman meminta agar singgasana Ratu dipindahkan sebelum kedatangannya. Jin Ifrit menawarkan akan membawanya sebelum Nabi berdiri dari tempat duduknya, namun seseorang yang memiliki ilmu mengatakan akan membawanya sebelum mata Nabi berkedip.
Dari peristiwa tersebut membuktikan bahwa semua makhluk lemah tanpa izin Allah, dan Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu. Peristiwa selanjutnya yaitu ketika Ratu tiba di istana Nabi Sulaiman, ia dihadapkan pada lantai kaca yang seperti air. Ia mengira akan basah, kemudian Nabi menjelaskan bahwa itu adalah kaca.
Dari peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa dunia dapat menipu manusia melalui penampilannya, sedangkan hakikatnya bisa berbeda. Setelah beragam peristiwa yang dialaminya, ia akhirnya menyatakan keimanannya seperti dalam QS. An-Naml: 44
قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَࣖ
Artinya: Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke istana.” Ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dia menyangkanya kolam air yang besar. Dia menyingkapkan (gaun yang menutupi) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai licin (berkilap) yang terbuat dari kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Itulah pembahasan terkait perjalanan kisah ratu balqis serta hikmah yang dapat kita petik untuk pelajaran iman. Dari beliau kita dapat belajar pentingnya musyawarah dan kebijaksanaan dalam memimpin, serta rendah hati dalam menerima kebenaran.
Baca Juga: Apa Itu Satanic? Penjelasan dalam Perspektif Islam
Penulis: Lintang Suryaningrum
