Beritaislam.com – Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi umat Islam yang saat memasuki bulan ramadhan. Namun, sering kali menjadi pertanyaan mengenai bagaimana hukum bayi baru lahir apakah tetap wajib membayar zakat fitrah.
Bayi baru lahir mengenai ketentuan membayar zakat fitrahnya kerap kali menjadi perdebatan, dan masalah ini dari tahun ke tahun pasti akan selalu muncul. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Yuk simak penjelasan lengkapnya!
Bayi Baru Lahir dan Kewajibannya Terhadap Zakat Fitrah
Dalam Islam, bayi baru lahir tetap wajib untuk membayar zakat fitrah. Ketentuannya yakni jika bayi tersebut baru lahir sebelum malam idul fitri, maka zakatnya tetap wajib ditunaikan. Namun sebaliknya, jika bayi tersebut baru lahir setelah malam idul fitri atau matahari telah terbenam, maka tidak wajib untuk membayar zakat fitrah.
ويشترط في المودى عنه امران الاول الاسلام فلا تخرج الفطرة عن كافر وفي المرتد ما مر، الثاني ان يدرك وقت وجوبها الذي هو اخر جزء من رمضان واول جزء من شوال فتخرج عمن مات بعد الغروب وعمن ولد قبله ولو بلحظة دون من مات قبله ودون من ولد بعده
Artinya: “Bagi orang membayar zakat fitrah disyaratkan dua hal. Pertama, Islam. Maka, orang kafir tak disyaratkan mengeluarkan zakat, sedangkan orang murtad terkena hukum sebagaimana telah dijelaskan. Kedua, menjumpai waktu wajibnya zakat, yakni akhir bagian dari Ramadhan dan awal bagian dari syawal. Maka wajib dikeluarkan zakat dari orang yang mati setelah terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) dan bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari, meskipun dengan jarak yang sebentar. Tidak dikeluarkan zakat dari orang yang mati sebelum terbenamnya matahari di hari akhir bulan Ramadhan dan bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, hal. 174)
Itu artinya, pembayaran zakat fitrah terhadap bayi baru lahir tetap wajib ditanggung oleh keluarganya jika telah memenuhi kriteria kewajiban untuk membayar zakat fitrah.
Namun, jika bayi tersebut masih dalam janin (kandungan) tidak ada kewajiban untuk membayar zakat meskipun sudah mendekati masa kelahirannya. Hal ini juga sebagaimana dikemukakan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi. Menurut beliau, Ibnu Mundzir menyuguhkan ijma’ atau konsensus para ulama yang menyatakan tidak wajib zakat fitrah untuk janin.
لَا تَجِبُ فِطْرَةُ الْجَنِينِ لَاعَلَي أَبِيهِ وَلَا فِي مَالِهِ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا
Artinya: “Di antara kami (madzhab Syafi’i) tidak ada perbedaan pendapat bahwa tidak wajib zakat fitrah bagi janin, tidak juga wajib bagi bapaknya bahkan tidak wajib zakat pula pada hartanya….”. (Lihat, Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah-Maktabah Al-Irsyad, Juz VI, halaman 105)
Ketidakwajiban ini bukan berarti kemudian tidak diperbolehkan menzakati janin yang masih dalam kandungan. Menurut penuturan Ibnu Mundzir, Imam Ahmad bin Hanbal menghukumi sunnah dan tidak mewajibkan.
وَاَشَارَ ابْنُ الْمُنْذِرِ إِلَى نَقْلِ الْاِجْمَاعِ عَلَي مَا ذَكَرْتُهُ فَقَالَ كُلُّ مَنْ يَحْفَظُ عَنْهُ الْعِلْمُ مِنَ عُلَمَاءِ الْاَمْصَارِ لَا يُوجِبُ فِطْرَةً عَنِ الْجَنِينِ قَالَ وَكَانَ اَحْمَدُ يَسْتَحِبُّهُ وَلَا يُوجِبُهُ
Artinya: “Ibnu Mundzir menukil adanya ijma atau konsensus para ulama sebagaimana yang telah kami kemukakan yang menyatakan bahwa para ulama amshar tidak mewajibkan zakat fitrah untuk janin. Kendati demikian Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, sunah untuk menzakati fitrah bagi janin tetapi tidak wajib.” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Juz VI, halaman 105)
Itulah tadi pembahasan mengenai kewajiban bayi baru lahir terhadap pembayaran zakat fitrah. Pada dasarnya, pembayarannya tergantung bayi tersebut lahir sebelum magrib di malam idul fitri atau tidak sehingga tahu mengenai perhitungan kewajibannya.
Baca Juga: Masuk Neraka Lewat Jalur Stiker WhatsApp? Inilah Menurut Pandangan Islam!
Penulis: Suci Wulandari
