Beritaislam.com – Ramadan sering menjadi momentum meningkatnya kepedulian sosial. Di berbagai sudut, kita melihat orang berbagi makanan, memberi bantuan, hingga membantu sesama tanpa diminta.
Namun, di balik semangat berbagi itu, sering muncul pertanyaan mendasar: mengapa Allah menekankan keikhlasan dalam memberi, bukan sekadar jumlah atau bentuk pemberiannya?
Alasan Harus Ikhlas Saat Memberi
Dalam kehidupan sehari-hari, memberi sering kali tidak benar-benar lepas dari harapan. Ada keinginan untuk dibalas, dihargai, atau minimal diingat. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kekecewaan pun muncul. Di sinilah letak persoalan yang sering luput disadari banyak orang.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk terbatas. Kita memiliki keterbatasan rezeki, waktu, tenaga, dan juga kemampuan untuk membalas kebaikan orang lain. Saat seseorang memberi lalu berharap balasan dari manusia yang sama, ia sedang menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang tidak pasti.
Dalam banyak kondisi, orang yang kita beri mungkin sedang berada dalam situasi sulit. Bisa jadi ia ingin membalas, tetapi terhalang keadaan ekonomi, kesehatan, atau masalah hidup lain yang tidak kita ketahui. Ketika harapan balasan itu tidak terwujud, kekecewaan pun muncul dan perlahan menggerus niat baik yang semula tulus.
Rasa kecewa yang berlebihan dapat membuat seseorang merasa sia-sia telah berbuat baik. Bahkan, tidak jarang kebaikan yang pernah diberikan justru diungkit kembali sebagai bentuk pelampiasan emosi.
Rasulullah SAW bersabda,
ثَلاثَةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ.
Artinya: Terdapat tiga orang yang tidak diajak berbicara oleh Allah pada Hari Kiamat, tidak melihat mereka, dan tidak menyucikan mereka, dan mereka berhak mendapatkan siksa yang amat pedih; Al-Musbil (orang yang memanjangkan pakaian hingga melebihi kedua mata kaki), Al-Mannan (orang yang gemar mengungkit pemberian atau kebaikan), dan orang yang mempromosikan barang-barang dagangannya dengan sumpah palsu. (HR Muslim).
Pada titik inilah nilai kebaikan itu mulai kehilangan maknanya.
Ikhlas saat memberi mengajarkan kita untuk memutus ketergantungan dari penilaian manusia. Dengan ikhlas saat memberi, seseorang tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada balasan sosial, melainkan pada keyakinan bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di sisi Allah.
Ketika keikhlasan menjadi dasar, memberi tidak lagi melahirkan luka, melainkan ketenangan. Ikhlas saat memberi juga menjaga hati tetap lapang, meski kebaikan itu tak pernah kembali dalam bentuk yang kita harapkan. Jadi, itulah alasan sederhana harus ikhlas saat memberikan sesuatu pada manusia.
Baca Juga: Hikmah Ikhlas: Melihat Kemenangan Orang Lain Tanpa Adanya Kebencian dan Iri dalam Hati
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
