Beritaislam.com – Astrophile atau sebutan bagi mereka yang mencintai keindahan langit dan bintang. Merasa kagum pada bintang-bintang yang bertebaran di langit malam dengan keindahan bulan yang terang.
Dalam Islam sendiri menjadi astrophile merupakan salah satu perintah Al-Quran untuk merenung tentang alam semesta. Aktivitas ini dapat menjadi sarana sebagai tadabur untuk merenungi hasil ciptaan Allah seperti yang sering dilakukan oleh Rasulullah.
Keindahan langit dan seisinya sebagai salah satu bentuk tanda kekuasaan Allah. Disunnahkan dan dianjurkan bagi kita untuk memandang langit sebagai penguat iman dan juga meneladani Rasulullah. Seperti yang Allah firmankan pada QS. Ali imran ayat 190:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”
Allah menegaskan bahwa langit dan bumi itu hanya milik Allah. Dianjurkanlah para umat Islam untuk mengenal keagungan dan kebesarannya. Mengamati bintang dan langit sebagai salah satu bentuk konsep tadabbur alam.
Apakah Astrophile Sunnah?
Mengamati langit seperti yang dilakukan Rasulullah dengan niat tadabbur dan mengenal kebesaran Allah, merupakan aktivitas yang sejalan dengan ajaran Islam dan teladan Rasulullah.
Disebut sebagai sunnah karena nilai dibalik astrophile selaras dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Hal tersebut seperti tadabbur pada hasil ciptaan Allah, menguatkan iman setelah melihat alam hasil ciptaannya, namun perlu dihindari aktivitas yang merujuk takhayul dan ramalan.
Suatu perbuatan bisa dinilai sebagai ibadah tergantung dengan niatnya. Menjadi astrophile bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk mengamati langit, merenung atas kebesaran Allah. Hal tersebut dapat menjadi ibadah tadabbur dan berpahala.
Bisa dihukumi mubah atau netral jika hal tersebut hanya diniatkan sebagai hobi, cukup untuk menikmati keindahan langit, tidak ada niatan ibadah dan tidak ada niatan yang berlawanan dengan syariat.
Namun bisa menjadi syirik jika tujuannya untuk mempelajari tentang rasi bintang yang nantinya disangkut pautkan dengan kepribadian, nasib, ramalan zodiak, hingga mempercayai jika benda langit mempunyai kuasa ghaib. Hal seperti ini melanggar syariat dan dilarang dalam Islam.
Islam memperbolehkan untuk kita belajar terkait astronomi seperti tentang benda-benda langit. Namun Islam melarang untuk mengaitkan bintang dengan nasib dan takdir seseorang. Rezeki, jodoh, hingga kematian seseorang hanya diketahui oleh Allah.
Itulah pembahasan terkait astrophile dalam Islam dan teladan Rasulullah. Mengagumi langit dapat bernilai sebagai ibadah jika diarahkan sebagai tadabbur dan penguat iman. Rasulullah mengajarkan cara memandang alam dengan tauhid yang lurus.
Baca Juga: 5 Obat Hati dalam Islam: Lakukan Ini Agar Hati Tenang dan Damai
Penulis: Lintang Suryaningrum
