Beritaislam.com — Di tengah derasnya penilaian sosial, jilbab sering kali dibebani makna yang terlalu berat. Seorang muslimah yang masih bergulat dengan dosa kerap merasa tidak pantas untuk tetap berjilbab, takut jika sudah berjilbab tapi masih banyak salah.
Padahal, syariat tidak pernah mensyaratkan kesempurnaan akhlak sebagai tiket untuk taat. Kewajiban tetaplah kewajiban dan akan berdosa jika ditinggalkan.
Alasan Harus Tetap Berjilbab Meski Banyak Salah
Pertama, karena berjilbab itu kewajiban yang perintah Allah terhadap setiap muslimah baligh dan berakal yang terdapat dalam surah An-Nur ayat 31. Kalau dilepas atau ditinggalkan otomatis berdosa. Alih-alih mengurangi dosa, melepas jilbab malah menjadi salah satu penambah dosa.
Dan perlu diperhatikan bahwa dalam Islam, kewajiban tidak gugur hanya karena pelakunya belum mampu meninggalkan semua dosa.
Sama seperti salat yang tetap wajib meski seseorang masih sering lalai, berjilbab pun tetap harus dijalani meski dosa belum sepenuhnya sirna. Menanggalkan kewajiban justru menambah beban kesalahan, bukan menyelesaikannya.
Kedua, dengan berjilbab akan ada perasaan malu saat hendak melakukan dosa, yang dapat dilihat banyak orang. Perasaan inilah penjaga alami seorang muslim terhindar dari tempat-tempat maksiat, misalnya ke klub, ke pesta yang mengumbar aurat, dan lainnya.
Setidaknya walau gak menutup semua pintu dosa, dengan berjilbab ada pintu dosa yang tertutup. Rasa malu ini adalah benteng awal yang sering diremehkan, padahal ia bisa menjadi penghalang penting dari langkah-langkah maksiat yang lebih jauh.
Ketiga, dengan berjilbab seorang muslimah jadi mudah dikenali, jadi orang-orang gak bermudah-mudah untuk mengajakannya dalam bermaksiat, karena ada rasa segan sama hijab yang dipakai.
Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Quran mengenai salah satu fungsi hijab bagi seorang muslimah. Allah SWT berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ٥٩
Artinya: Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59)
Identitas ini secara sosial menjadi pengingat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, bahwa ada batas yang perlu dijaga.
Berjilbab bukan klaim kesucian, tapi langkah ketaatan. Meski dosa sebesar gunung, kewajiban tetap kewajiban, dan taat tidak pernah menunggu manusia menjadi sempurna.
Baca Juga: Belum Berani Berhijab Karena Masih Banyak Dosa: Kesalahan Berpikir yang Sering Terjadi
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
