Beritaislam.com – Sebagai umat Islam, perlu sekali kita mengetahui kisah-kisah tentang sahabat Rasulullah SAW yang dapat dijadikan sebuah teladan dari kisah inspiratifnya tak terkecuali tentang Bilal bin Rabah sahabat Rasulullah SAW.
Bilal bin Rabah merupakan muadzin pertama Rasulullah SAW yang menjadi seorang budak keturunan Habasyah. Perjalanan hidup Bilal sangatlah menarik untuk dibahas karena kisahnya yang unik dalam semangat memperjuangkan akidah Islam.
Siapa Bilal bin Rabah?
Bilal bin Rabah merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan keteguhan keimanannya dalam mempertahankan Islam. Ia lahir 43 tahun sebelum hijrah Rasulullah SAW ke kota Madinah.
Ayahnya bernama Rabah, ibunya bernama Hamamah yang dimana kedua orang tuanya merupakan budak Bani Jumah, kabilah Quraisy yang sangat terkenal. Bani Umayyah dulu menyiksa Bilal bin Rabah dengan dicambuk, badannya ditimpa dengan batu, dipukul, tubuhnya di jemur di padang pasir yang gersang, tandus, dan sangat panas.
Meskipun telah melalui siksaan yang tidak ada habisnya, Bilal imannya tidak pernah goyah. Ia tetap meneriakkan “Ahad, Ahad” artinya (Allah SWT yang Maha Esa). Penderitaan yang dialami oleh Bilal ini menjadi kisah yang sangat mengharukan karena ia merupakan salah satu sosok yang memiliki keteguhan hati dan iman yang sangat luar biasa.
Kemuliaan iman seseorang tidak ditentukan dari rupa dan status sosial. Bilal adalah seorang hamba sahaya atau budak berkulit hitam dan miskin namun keyakinannya kepada Allah SWT sangatlah kuat. Bahkan disaat tubuhnya penuh dengan luka dan darah, ia tetap memilih Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama.
Mengapa Bilal bin Rabah Dipilih Menjadi Muadzin?
Bilal bin Rabah dipilih menjadi muadzin karena ia memiliki suara yang merdu dan lantang, memiliki tauhid yang kuat, disiplin dan tepat waktu, pemberani di masa bahaya. Saat mengumandangkan adzan, suara Bilal sangat menyentuh hati.
Bilal mengumandangkan adzan sehari sebanyak 5 kali dan ia sangat dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk mendampingi Beliau di setiap peristiwa penting. Bahkan dalam Perang Uhud, Bilal berhadapan secara langsung dengan mantan tuannya, Umayyah bin Khalaf, di medan perang. Dikisahkan Bilal berhasil menewaskan Umayyah bin Khalaf, bekas majikannya yang dulu menyiksanya.
Momen paling bersejarah bagi Bilal adalah saat Penaklukan Makkah (Fathu Makkah) tahun 630 M. Ketika kaum Muslimin berhasil merebut kota Makkah tanpa adanya pertumpahan darah. Rasulullah SAW memerintahkan Bilal bin Rabah untuk naik ke atap Ka’bah dan mengumandangkan adzan sebagai sebuah tanda kemenangan.
Adzan Terakhir yang Berisi Isak Tangis
Setelah Rasulullah SAW wafat, Bilal tak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaah (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Bilal meminta izin kepada Umar bin Khattab untuk tidak mengumandangkan adzan kembali dan pergi untuk mengasingkan diri. Awalnya Umar ragu-ragu dengan permintaan Bilal kemudian pada akhirnya menurutinya.
Ketika ada suatu momen Bilal dan Umar kembali bertemu setelah sekian lama, Umar meminta Bilal adzan di Yerusalem dan pada akhirnya Bilal menyetujui hal tersebut. Pada momen ini semua sahabat menangis haru ketika mendengarkannya.
Itulah tadi mengenai fakta unik Bilal bin Rabah muadzin pertama Rasulullah SAW yang menggetarkan hati. Meskipun seorang budak, Bilal merupakan sosok yang tangguh dan memiliki keyakinan penuh terhadap Islam. Perjuangannya yang luar biasa inilah yang wajib kita jadikan contoh agar bisa menjadi hamba yang senantiasa teguh dalam mempertahankan akidah.
Baca Juga: 3 Keutamaan Sholat Qobliyah Subuh dan Tips Konsisten Melaksanakannya
Penulis: Suci Wulandari
