Beritaislam.com – Hati yang keras sering kali tidak disadari kehadirannya. Hati yang keras sulit tersentuh nasihat, mudah emosi, dan berat menerima kebenaran yang datang. Islam memberikan tuntunan yang jelas tentang cara melembutkan hati yang keras..
Banyak orang mengira hati hanya sekadar masalah perasaan, padahal dalam Islam, kondisi hati sangat menentukan kualitas iman dan amal. Kabar baiknya, hati yang keras bukan vonis permanen.
Cara Melembutkan Hati yang Keras
Salah satu cara utama adalah memperbanyak dzikir. Mengingat Allah secara konsisten mampu menenangkan dan melunakkan hati yang kasar. Allah menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dzikir bukan sekadar lisan, tetapi juga di usaha untuk menghadirkan Allah dalam kesadaran sehari-hari agar hati tidak liar dan kering.
Selain itu, memperbanyak membaca Al-Qur’an juga menjadi obat bagi hati yang keras. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan penyembuh bagi penyakit hati.
Allah menyebut bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh bagi semua penyakit yang ada di dalam dada. Allah SWT berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ٥٧
Artinya: Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin. (QS. Yunus: 57).
Sehingga dengan memperbanyak membaca dan merenungkan Al-Quran, maka hati perlahan akan menjadi lebih tenang.
Istighfar juga berperan besar dalam melembutkan hati. Dosa yang menumpuk membuat hati tertutup dan gelap.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa, akan muncul noda di hatinya, dan istighfar adalah cara membersihkannya.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (HR. At- Tirmidzi).
Semakin sering istigfar, semakin terbuka jalan bagi cahaya iman untuk masuk.
Selanjutnya, salat malam menjadi amalan yang sangat kuat dalam membentuk kelembutan hati.
Allah memuji orang-orang yang bangun malam untuk bersujud dan bermunajat kepada-Nya yang terdapat dalam Al-Quran surah As-Sajdah ayat 16. Dalam keheningan malam, hati lebih jujur dan mudah luluh di hadapan Allah.
Terakhir, jangan tinggalkan doa. Rasulullah SAW sering berdoa agar hatinya diteguhkan. Ini menunjukkan bahwa kelembutan hati adalah karunia yang perlu dimohonkan. Tanpa pertolongan Allah, hati mudah kembali mengeras meski sudah diusahakan.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya: “Wahai Sang Pembolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu”. (HR. At- Tirmidzi).
Melembutkan hati adalah proses. Namun selama masih ada usaha mendekat kepada Allah, pintu perubahan selalu terbuka. Jadi, itulah cara melembutkan hati yang sesuai dengan tuntunan dalam Islam.
Baca Juga: Cara Meluruskan Niat Menyambut Ramadhan: Lakukan Hal Sederhana Ini
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
