Beritaislam.com – Masyarakat modern biasanya sangat familiar dengan istilah people pleaser, yaitu orang yang terbiasa menjadikan kebahagiaannya berorientasi pada penilaian manusia.
Biasanya orang yang mengidap kebiasaan sebagai people pleaser, akan lebih mengutamakan orang lain ketimbang dirinya sendiri dan bahkan rela membuat dirinya sendiri kesulitan hanya agar orang lain bahagia.
Ubah People Pleaser Menjadi Allah Pleaser
Sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak menjadikan manusia sebagai alasan untuk berbuat baik. Karena pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk yang sangat lemah dan rapuh, sebagaimana yang Allah sampaikan dalam Al-Quran surah An-nisa ayat 28,
يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا ٢٨
Artinya: Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah.
Menurut pemahaman penulis, ayat ini juga menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang lemah bahkan dalam menghadapi hawa nafsunya sendiri.
Melakukan kebaikan hanya untuk manusia, rawan untuk mengalami kecewa. Sedangkan melakukan kebaikan dengan niat mendapat ridho Allah, akan jauh lebih membahagiakan.
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini juga mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang diniatkan bukan untuk Allah SWT, kebaikan yang dilakukannya tidak akan bernilai apa-apa di sisi Allah SWT.
Selain itu, biasanya people pleaser terkenal sebagai orang yang tidak bisa mengatakan “tidak” pada perkataan orang. Mereka selalu berusaha untuk bisa memenuhi keinginan orang, walau sebenarnya itu diluar kemampuan mereka.
Allah jelas melarang manusia untuk melewati batas kemampuannya. Dalam Al-Quran surah Al- Baqarah ayat 286, Allah berfirman,
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ٢٨٦
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”
Jika Allah SWT saja tidak membebanimu segala sesuatu perkara diluar kemampuanmu, lantas siapa kamu yang bisa membebani diri diluar kemampuan sendiri? Sikap semacam ini sangat berpotensi mendzolimi diri sendiri dan jelas itu dilarang dalam Islam.
Jadi, itulah pandangan Islam mengenai fenomena people pleaser dan bagaimana caranya mengubahnya menjadi Allah pleaser, yang artinya meniatkan semua kebaikan untuk mencari ridha Allah SWT.
Baca Juga: Fenomena “Enak ya Jadi Kamu”: Bagaimana Seharusnya Muslim Menyikapinya?
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah
