Beritaislam.com – Media sosial yang awalnya menjadi sarana berbagi kabar dan inspirasi, kini juga dipenuhi oleh konten yang mempertontonkan perbuatan maksiat secara terang-terangan.
Ironisnya, saat banyak nasihat yang datang, tak sedikit pelaku berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah “urusan pribadi”. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap dosa.
Maksiat Urusan Pribadi yang Dipublish
Anggapan bahwa maksiat adalah urusan pribadi sering kali digunakan untuk membungkam kritik dan nasihat. Seolah-olah selama tidak mengganggu orang lain secara langsung, perbuatan dosa bebas dipamerkan.
Maksiat tidak lagi dianggap sebagai aib yang harus ditutupi dan disesali, melainkan konten yang bisa dikemas, dipoles, lalu dikonsumsi publik. Padahal dalam Islam, rasa malu adalah bagian dari iman, dan menjaga aib diri sendiri merupakan bentuk rahmat Allah yang seharusnya disyukuri, bukan dirusak dengan pamer keburukan.
Ketika maksiat diunggah ke media sosial, ia tidak lagi bersifat pribadi. Ia berubah menjadi tontonan publik yang berpotensi ditiru, dinormalisasi, bahkan dibenarkan oleh orang lain.
Lebih dari itu, mengumbar maksiat di media sosial dapat mematikan sensitivitas iman, baik bagi pelaku maupun penontonnya. Hati menjadi terbiasa melihat dosa, rasa takut kepada Allah perlahan memudar, dan yang salah terasa wajar.
Rasulullah SAW mengingatkan agar senantiasa menjaga diri dari bangga terhadap dosa atau maksiat yang dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Artinya: Setiap ummatku dimaafkan, kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Sesungguhnya, termasuk menampakkan kemaksiatan adalah seseorang berbuat suatu perbuatan maksiat di malam hari kemudian di pagi harinya dia menceritakan perbuatannya tersebut, padahal Allah sendiri telah menutupinya. Dia mengatakan, ‘Hai Fulan! Tadi malam saya berbuat demikian dan demikian.’ Sepanjang malam Tuhannya telah menutupi aibnya, tetapi ketika pagi hari dia justru membuka penutup yang telah Allah tutupkan padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan ingatlah setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk apa yang disebarkan melalui lisan dan tulisan.
Di tengah budaya pamer maksiat urusan pribadi, sikap paling selamat adalah menahan diri, menutup aib, dan memperbanyak muhasabah.
Jika terjatuh dalam dosa, Islam mengajarkan untuk segera bertaubat, bukan mengumumkan maksiat seolah itu prestasi. Media sosial seharusnya menjadi ladang kebaikan, bukan etalase kemaksiatan yang dibungkus dalih “urusan pribadi”.
Baca Juga: Kamis dalam Islam: 3 Rekomendasi Amalan yang Dianjurkan di Hari Kamis
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
