Beritaislam.com – Pernakah kamu mendapat pesan ‘otw bentar lagi sampai’ dari teman, tapi saat di tunggu ia tak kunjung sampai? Atau malah mungkin kamu pelaku yang menggunakan kata OTW, padahal masih siap-siap di rumah.
Fenomena mengaku “OTW” padahal masih bersiap-siap kerap dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat singkat itu sering dilontarkan untuk menghindari teguran, menenangkan pihak lain, atau sekadar menunda waktu. Namun, di balik fenomena otw yang tampak ringan tersebut, tersimpan persoalan nilai yang serius, terutama jika dilihat dari kacamata kejujuran dalam Islam.
Kejujuran Seorang Muslim Terhadap Fenomena OTW
Dalam Islam, kejujuran bukan hanya dituntut dalam perkara besar, tetapi juga dalam ucapan yang tampak kecil. Mengatakan “OTW” saat sebenarnya belum berangkat pada hakikatnya adalah kebohongan, meski dikemas dengan alasan kebiasaan atau candaan.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 70,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ٧٠
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat ini menegaskan bahwa standar ucapan seorang Muslim adalah kebenaran, bukan kenyamanan.
Fenomena “OTW” yang tidak sesuai fakta menunjukkan bagaimana kejujuran kerap dikompromikan demi menghindari rasa tidak enak. Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa seorang muslim meninggalkan berkata bohong.
Rasulullah SAW bersabda,
مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به، فليسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ
Artinya: “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan berbuat kebohongan maka Allah tidak memiliki keperluan dalam hal dia meninggalkan makanannya dan minumannya.” (HR. Al Bukhari)
Dalam Islam, berbohong hanya diperbolehkan dalam tiga perkara, sebagaimana yang Rasulullah SAW sampaikan,
“Berbohong itu tidak halal dilakukan kecuali dalam tiga keadaan: seorang suami berbicara kepada istrinya agar istrinya itu rida, dan berbohong dalam perang dan berbohong dalam rangka memperbaiki hubungan di antaramanusia.” (HR. At Tirmidzi)
Maka sudah sangat jelas, jika kebohongan kecil semacam “OTW” yang seringkali dianggap wajar dan bahkan dinormalisasikan karena tidak menimbulkan dampak langsung yang besar, bukanlah hal yang diperbolehkan dalam Islam.
Karena kebiasaaan semacam ini dapat mengikis kepekaan nurani dan merusak nilai kejujuran yang seharusnya dijaga seorang muslim.
Islam mengajarkan bahwa integritas seorang Muslim terlihat dari konsistensi antara ucapan dan perbuatan, bahkan dalam hal yang remeh.
Fenomena OTW seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga kejujuran adalah bentuk takwa yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lebih baik berkata jujur meski sederhana, seperti “masih bersiap,” daripada menenangkan dengan ucapan yang tidak benar.
Sebab, dalam Islam, kejujuran bukan soal besar atau kecilnya perkara, melainkan soal benar atau salahnya sikap.
Baca Juga: Tren “At Least” Dalam Pandangan Islam: Buka Aib yang Dinormalisasi
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
