Beritaislam.com – Nanti aja taubatanya kalau udah tua, kalimat yang sering orang ucapkan kalah diingatkan akan sebuah dosa. Mirisnya, banyak orang merasa hidup ini seperti punya jadwal panjang yang bisa diatur sesuka hati. Masa muda dipakai untuk mengejar dunia, sementara urusan akhirat dianggap bisa ditunda nanti, ketika rambut sudah memutih dan tubuh mulai renta.
Pola pikir semacam ini diam-diam tumbuh di tengah masyarakat, seolah kematian adalah sesuatu yang selalu datang belakangan. Padahal, realitas hidup menunjukkan hal sebaliknya, kematian tidak pernah mengenal usia, status, atau kesiapan manusia.
Hikmah Dibalik Meninggal Tak Kenal Usia
Hikmah dibalik meninggal tak kenal usia salah satunya adalah agar manusia tidak lalai dalam menjalani hidup. Jika kematian dipastikan hanya datang saat tua, besar kemungkinan banyak anak muda akan merasa aman berbuat sesuka hati.
Maksiat dianggap wajar, kerusakan dianggap biasa, dan taubat cukup disimpan sebagai rencana masa depan. Dalam Al-Quran, orang-orang semacam ini dikatakan sebagai orang yang rugi.
Allah SWT berfirman,
قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً قَالُواْ يَٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِيهَا وَهُمۡ يَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡ ۚ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ
“Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” (QS. Al-An’am: 31)
Ketidakpastian usia kematian justru menjadi rem agar manusia sadar bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah, bukan waktu untuk menunda.
Selain itu, hikmah dibalik meninggal tak kenal usia juga terlihat dari fenomena sebagian orang yang baru tampak alim ketika usia sudah senja. Perubahan ini memang terlihat baik di luar, tetapi niat di baliknya perlu direnungkan.
Jika manusia mendapatkan kepastian kematian datang di usia tua, kesalehan itu bukan lahir dari kesadaran cinta dan rindu kepada Allah, melainkan dari ketakutan semata akan kematian yang terasa semakin dekat. Agama akhirnya diperlakukan sebagai pelampung terakhir, bukan sebagai jalan hidup sejak awal.
Lebih jauh lagi, jika manusia merasa kematian hanya ancaman bagi orang tua, rasa takut berlebihan terhadap dunia akan semakin kuat. Orang-orang yang terlalu takut meninggalkan dunia bisa melakukan berbagai cara untuk menolak kematian, bahkan dengan menghalalkan segala cara.
Dari sinilah potensi kerusakan muncul, karena hidup bukan lagi dijalani dengan amanah, melainkan dengan kepanikan dan kerakusan.
Pada akhirnya, hikmah dibalik meninggal tak kenal usia adalah panggilan agar manusia selalu siap, di usia berapa pun. Sehingga taubat bukan agenda masa tua, melainkan kebutuhan setiap hari. Karena yang muda belum tentu sampai tua, dan yang hidup hari ini belum tentu bertemu esok hari.
Baca Juga: Percuma Ngaji Kalau Masih Maksiat: Benarkah?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
