Beritaislam.com – Akhir-akhir ini ramai menjadi perbincangan mengenai film Sore: Istri dari Masa Depan yang bukan hanya menyuguhkan romansa melainkan juga hikmah yang mendalam. Film sore mengambarkan seorang istri dari masa depan yang ingin membuat suaminya berubah.
Film sore ini merupakan film yang hadir menyuguhkan adegan seorang istri yang ingin berusaha mengubah kebiasaan buruk suaminya di masa lalu karena Sore tidak menginginkan jika suaminya meninggal terlebih dahulu di usia yang cukup muda.
Film sore ini mengajarkan bahwa seorang istri tetap harus setia kepada suami begitupun sebaliknya diluar luka maupun kekecewaan dari sikap keduanya. Dalam tokoh Jonathan, suami Sore mengajarkan bahwa luka di masa lalu bisa terbawa sampai dewasa.
Hal itu terlihat ketika Jonathan tumbuh dewasa dan menikah dengan Sore, tetapi dia tetap sulit memaafkan ayahnya karena telah meninggalkan ibunya saat masih kecil dan memilih menikah dengan warga negara asing. Film Sore Istri dari Masa depan ini mengulas banyak hal tentang fenomena itu.
Hikmah Film Sore Istri dari Masa Depan
Berikut ini adalah hikmah dari film Sore Istri dari Masa Depan berdasarkan sudut pandang Islam:
1. Waktu adalah Amanah dan Bentuk Ujian
Islam melihat waktu bukan hanya sebagai bentuk detik, menit, atau jam. Dalam Islam, memaknai waktu yaitu bentuknya amanah dan ujian. Rasulullah SAW bersabda: “Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, No. 6412)
Hadist tersebut bermakna, bahwa kita sebagai umat Islam seringkali lalai dan mengabaikan waktu. Padahal dalam Islam, kita dilarang untuk menyia-nyiakan waktu karena waktu adalah hal berharga yang tidak dapat diulang kembali.
Jika di dalam film Sore Istri dari Masa Depan, Jonathan sering meremehkan waktu untuk hal yang sia-sia seperti merokok setiap saat dan mabuk-mabukan, maka umat Islam harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik agar tidak menyesal di masa depan.
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Waktu itu ibarat pedang. Jika kamu tidak menggunakannya dengan baik, ia akan menebasmu.” Waktu itu diibaratkan sebagai emas karena sangat mahal dan berharga.
Dalam film Sore Istri dari Masa Depan, Jonathan bisa memanfaatkan waktunya dengan baik, maka ia tak perlu diselamatkan lagi oleh Sore. Begitupun dengan kita sebagai umat Islam, jangan menunggu seseorang terlebih dahulu untuk berubah.
Waktu merupakan sebuah investasi untuk terus beramal soleh sebelum ajal menjemput. Sesuai dengan firman Allah SWT: “Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Surat ini diawali dengan sumpah Allah kepada manusia, wa al-‘ashr. Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menyebutkan ada dua maknanya. Pertama, demi waktu secara umum. Masa seluruhnya ini, waktu demi waktu yang kita lalui dalam hidup, zaman demi zaman, masa demi masa, dalam bahasa Arab Ashr juga sebutannya.
Kedua, waktu ‘Ashar, waktu petang hari seketika bayang-bayang badan sudah mulai lebih panjang daripada badan kita sendiri, sehingga masuklah waktu salat Ashar. Keduanya bisa dipahami secara bersamaan.
Allah SWT bersumpah atas waktu secara umum, karena waktu adalah elemen penting dalam kehidupan manusia. Ia terus berputar dan tak dapat diubah. “Ada tiga hal yang tak dapat diubah, masa lalu, rasa sakit dan kematian”, kata Marko kepada Sore. Tiga hal tersebut berkaitan dengan waktu.
Pada saat yang bersamaan, Allah SWT pun bersumpah demi waktu ashar yang spesifik. Waktu tersebut sering disebut dengan waktu sore atau senja. Masa tersebut dimaknai sebagai bentuk penyesalan manusia yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik.
Surat Al-Ashar ini juga bisa tampak jelas dalam tokoh Sore dari masa depan yang membawa pelajaran bagi Jonathan agar bisa berubah menjadi lebih baik sebelum semuanya terlambat.
Hal tersebut mengajarkan jika setiap langkah yang kita ambil akan membawa dampak untuk kehidupan di masa depan terutama bagi umat Islam juga akan dimintai pertanggungjawaban saat di akhirat kelak.
2. Pentingnya Merubah Diri Menjadi Lebih Baik
Dalam Tokoh Jonathan merupakan bentuk dari gambaran fenomena fatherless yang dimana tidak merasakan peran ayah sejak kecil yang dimana hal tersebut juga bisa mempengaruhi dalam tumbuh kembang dan perilaku Jonathan di masa depan.
Pada akhirnya, Jonathan menjadi salah arah seperti minum alkohol, kecanduan rokok, dan memiliki pergaulan yang dangkal. Sore yang datang dari masa depan selalu berusaha memberitahu Jonathan untuk mengubah kebiasaan buruknya tetapi tidak ada hasil.
Sayangnya, cinta saja tidak cukup untuk menolong seseorang yang bahkan ia sendiri tidak mau mengubah dirinya lebih baik, memaafkan keadaan di masa lalu, dan menerima segalanya dengan ikhlas.
Dalam Islam, hal ini dimaknai jika seseorang tidak bisa diubah dengan orang lain dengan mudah begitu saja jika orangnya sendiri tidak mau mengubah dirinya menjadi lebih baik. Islam memberikan petunjuk dan rahmat bagi siapa saja yang mau berubah.
Sesuai dengan firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d:11)
Tokoh Sore hadir sebagai bentuk rahmat (kasih sayang). Ia seperti sebuah hikmah yang dikirimkan kepada Jonathan. Tapi tetap saja, takdir tak mengubah begitu saja jika dalam dirinya sendiri tidak ada dorongan untuk berubah lebih baik.
Allah SWT bukan berkata “tidak bisa” melainkan “tidak akan” karena Allah SWT juga selalu memberikan waktu untuk hamba-Nya yang masih berusaha dan berproses untuk berubah. Allah SWT akan selalu memberikan kesempatan bagi siapapun.
Menurut Imam Al-Ghazali, kebiasaan buruk itu seperti karat pada hati (ghaflah). Ia muncul dari kelalaian, dari hidup yang tak dihadirkan secara sadar. Dan hanya dengan muhasabah (refleksi diri), seseorang bisa melihat arah hidupnya dengan jernih.
Banyak orang yang mengira bahwa ketika menikah, akan mampu mengubah pasangannya menjadi lebih baik dari sebelumnya padahal itu tidaklah bisa. Seseorang berubah hanya karena dorongan kuat dari dirinya sendiri dan sadar ada tujuan yang ingin dicapai.
Ia juga bisa berubah karena adanya faktor pasangan yang selalu sabar menemani dengan ikhlas untuk berproses menjadi lebih baik sehingga usaha berubah itu akan semakin lebih kuat lagi.
Jonathan, dalam hal ini, mengalami bentuk keterputusan identitas kelelakian. Ia tidak tahu bagaimana menjadi pria dewasa yang sehat, karena tidak pernah melihat contoh itu dalam rumahnya.
Itulah tadi mengenai hikmah film Sore Istri dari Masa Depan menurut sudut pandang Islam. Pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar tidak menyesal di masa depan.
Selain itu, kita juga harus bisa berusaha mengubah diri menjadi lebih baik, karena Allah SWT selalu memberikan kesempatan bagi siapa saja yang mau berusaha untuk berubah menjadi lebih baik tanpa memandang status hamba-Nya.
Senja sangatlah istimewa. Kehadirannya merupakan bahasa cinta dari Allah SWT. Dari senja kita bisa belajar untuk bisa menyisihkan luka dan cahaya. Senja tidak pernah salah, manusialah yang tidak mengerti makna didalamnya. Film Sore Istri dari Masa Depan ini banyak mengajarkan kebaikan.
Baca Juga: Ini Dia Tanda-Tanda Istri Durhaka Terhadap Suami dalam Pandangan Islam
Penulis: Suci Wulandari
