Beritaislam.com – Kita sering kali melihat pencapaian orang lain seperti memiliki rumah dan kendaraan baru, berhasil menikah, memiliki pekerjaan yang baik dan sesuai, serta pencapaian lain yang terkadang membuat kita merasa iri dan bertanya “Kapan giliranku? Kok orang lain terus?” Padahal yang sebenarnya Allah SWT telah menentukan semuanya.
Ikhlas merupakan salah satu cara terbaik yang bisa kita lakukan saat melihat pencapaian dan kemenangan orang lain. Iri sebenarnya adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun jika terus-menerus dibiarkan dan tidak dikontrol, maka justru hal ini akan membuat kita menjadi tumbuh rasa kebencian dan hanya akan melelahkan jiwa.
Hikmah Ikhlas Terhadap Kemenangan Orang Lain
Ikhlas bukan hanya sekedar ucapan pada lisan, maupun juga niat dari dalam hati. Hikmah karena kita telah ikhlas adalah membuat hati kita jauh menjadi lebih tenang meskipun kita telah berkali-kali merasakan kegagalan dan justru melihat kemenangan dari orang lain.
Setiap kesuksesan merupakan sebuah berkah yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya dan rezeki berupa kemenangan dari orang lain pun tidak akan pernah mengurangi jatah dari rezeki kita sedikit pun sebab, Allah SWT itu Maha Luas.
Kita harus percaya jika apa yang Allah SWT berikan itu selalu tepat pada waktunya. Tidak ada yang terlambat atau bahkan datang terlalu cepat. Allah SWT akan berikan ketika kita telah benar-benar siap untuk menerima dan memikulnya.
Ikhlas mengajarkan kita bahwa rezeki Allah SWT itu sangat luas bukan hanya perihal materi duniawi. Mungkin kita tidak kaya tetapi kita selalu diberikan hati yang ikhlas dan lapang. Mungkin kita tidak mempunyai backingan di dunia, tetapi Allah SWT senantiasa mempermudah urusan kita.
Rezeki itu tidak serta merta bentuknya pencapaian tetapi juga soal ketenangan dalam diri. Jika kita ikhlas menerima segala hal yang telah Allah SWT takdirkan, maka tentu saja Allah SWT sendirilah yang akan membimbing kita.
Pahala bagi orang-orang yang ikhlas tidak main-main karena Allah SWT yang akan menjaminnya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللّٰهِ وَاَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَۗ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
Artinya: “Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa: 146)
قُلْ اَمَرَ رَبِّيْ بِالْقِسْطِۗ وَاَقِيْمُوْا وُجُوْهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۗ كَمَا بَدَاَكُمْ تَعُوْدُوْنَۗ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku memerintahkan aku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) di setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kamu akan kembali kepada-Nya sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan.”” (QS Al-Araf: 29)
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Artinya: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Iri hati atas kemenangan dan pencapaian orang lain itu pelan-pelan akan membuat hati kita kotor dan lelah dengan sendirinya. Energi kita akan terkuras karena terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak kita pikirkan.
Ketika kita ikhlas dan mendoakan yang terbaik untuk orang lain, justru itulah yang membuat hati kita senantiasa bersih. Keberhasilan dan kemenangan orang lain merupakan hasil dari mereka yang Allah SWT berikan dan titipkan.
Saat kita berdoa atas kemenangan orang lain, secara tidak langsung para malaikat juga ikut serta dalam mendoakan keberhasilan kita. Meskipun belum waktunya kita diberikan, namun Allah SWT pasti juga telah menyiapkan yang terbaik.
Orang yang telah berhasil selesai terhadap dirinya sendiri, tidak akan pernah merasa kecil saat melihat orang lain berhasil. Ia mengetahui betul bahwa setiap orang memiliki timeline nya masing-masing.
Itulah tadi pembahasan mengenai hikmah ikhlas terhadap kemenangan orang lain. Pada dasarnya, ketika kita sudah siap mendapatkan kemenangan, maka kita tidak akan pernah merasa iri hati tentang kemenangan orang lain.
Dengan mendoakan kebaikan dan keberkahan atas pencapaian orang, maka secara otomatis kita juga percaya diri untuk siap mendapatkan jatah takdir terbaik yang akan Allah SWT berikan.
Baca Juga: Kritik yang Baik dalam Islam, Tidak Merendahkan Martabat dan Kehormatan Orang Lain
Penulis: Suci Wulandari
