Beritaislam.com – Istilah Islam KTP sering digunakan untuk mengambarkan seseorang yang menjadikan Islam hanya sebagai identitas yang mengisi kolom agama pada KTP. Biasanya orang tersebut tidak menjalankan syariat Islam dan bahkan meninggalkan hal-hal yang diwajibkan atasnya seperti salat dan puasa di bulan Ramadhan.
Fenomena sosial ini makin populer di Indonesia setelah dijadikan salah satu judul serial di televisi “Islam KTP” pada tahun 2010. Sinetron ini menggambarkan fenomena orang Islam yang mengaku Islam hanya karena orang tuanya beragama Islam. Ia menjadikan Islam seolah warisan turun temurun semata, yang syariatnya digunakan hanya untuk menikah dan saat meninggal dunia.
Fenomena Islam KTP
Islam KTP lahir dari ketidaksiapan orang tua dalam mempersiapkan pendidikan agama dan lingkungan yang mendukung untuk anak mengenal agamanya. Anak dibiasakan hidup terpisah dari agama, seolah agama hanya ruang khusus yang digunakan pada momentum tertentu seperti lebaran dan proses kematian.
Pemisahan agama dan kehidupan menjadikan fenomena Islam KTP semakin meluas. Fenomena semacam ini bisa terlihat jelas di Turki, banyak orang mengaku beragama Islam tapi mereka tidak mengenal Islam.
Dalam sebuah konten yang diunggah di sosial media, beberapa orang Turki ditanya mengenai agama mereka dan mereka menjawab dengan yakin bahwa mereka beragama Islam, tapi mirisnya saat ditanya mengenai Islam mereka tidak tahu, dan bahkan ada yang tidak bisa membaca surah Al-Fatihah.
Di Indonesia sendiri, dilansir dari jurnal berjudul Islam KTP, banyak ditemui di desa-desa yang mana mereka mengetahui mengenai syariat Islam, tapi masih belum memiliki kesadaran untuk melaksanakan Islam seutuhnya, sehingga hanya beberapa syariat Islam yang dilakukan dan yang lainnya ditinggalkan.
Bahaya Ketika Agama Hanya Dijadikan Warisan
Ketika agama hanya dijadikan warisan maka yang akan terjadi sebagai berikut,
Pertama, mereka tidak akan benar-benar tahu kenapa harus beragama Islam. Mereka beragama Islam ya karena orang tua mereka beragama Islam, sehingga beberapa orang hanya menganggap beragama Islam sebagai sesuatu yang diberikan tanpa ingin lebih mengenal.
Kedua, banyak orang beragama Islam dan mengaku Islam, tapi kelakuannya jauh dari apa yang dituntun dalam Islam. Akibatnya, agama Islam yang mereka bawa sebagai identitas jadi tercoreng di mata orang-orang yang tidak mengenal Islam.
Dewasa ini, banyak sekali orang yang mengaku beragama Islam, tapi gaya hidupnya sangat jauh dari Islam, mereka minum alkohol, sex bebas, clubing dan sebagainya. Padahal semua perilaku tersebut dilarang dan haram dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِّ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ؟
Artinya: Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga umatku mengambil langkah generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah bangsa Persi dan Romawi?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka? (HR. Al-Bukhari no. 6774)
Ketiga, pemeluknya sendiri yang menjelek-jelekan Islam karena merasa syariat mengekang mereka.
Contohnya, mereka dengan santai menormalisasikan pacaran dan berkata, “cuma pacaran doang kok, yang penting gak zina”, “gimana mau nikah kalau gak pacaran?” Kalimat semacam ini yang akhirnya menjadi “pacaran” seolah hal yang wajar bagi orang yang beragama Islam.
Padahal Allah SWT dengan tegas melarang semua perbuatan yang menjurus ke arah zina seperti pacaran. Allah SWT berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
Artinya: Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. (QS. Al-Isra:32).
Dan mirisnya, karena banyak orang yang mengaku Islam melakukannya, semua orang melakukannya tanpa perasaan bersalah.
Demikianlah mengenai fenomena Islam KTP dan bahayanya jika agama hanya dijadikan sebagai warisan. Maka, disinilah tugas penting orang tua dalam mendidik anak agar tidak hanya menjadikan agama sebagai warisan yang diturunkan, tapi agama sebagai pedoman hidup.
Baca Juga: 3 Flexing yang Diperbolehkan Dalam Islam
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.
