Beritaislam.com – Makanan sering kali dianggap perkara sepele, padahal Islam memandangnya sebagai nikmat besar yang langsung berkaitan dengan adab dan iman seorang Muslim. Dari hal sederhana seperti komentar terhadap rasa makanan, seseorang bisa terjatuh pada sikap kufur nikmat tanpa disadari.
Di tengah budaya bebas berkomentar dan mudah mencela, Islam hadir mengajarkan sikap hati-hati dalam menjaga lisan, termasuk terhadap makanan.
Larangan Mencela Makanan
Makanan bukan sekadar pemuas selera, melainkan rezeki yang Allah titipkan. Cara kita menyikapinya mencerminkan rasa syukur atau sebaliknya.
Mencela makanan bertentangan dengan sikap syukur yang diperintahkan dalam Islam. Setiap makanan adalah pemberian Allah, baik kita menyukainya atau tidak.
Allah menegaskan bahwa syukur adalah kunci ditambahkannya nikmat, sementara kufur nikmat mendatangkan azab.
Allah SWT berfirman,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. (QS. Ibrahim: 7).
Mencela makanan sejatinya bukan hanya menyakiti perasaan orang yang memasak atau menyajikan, tetapi juga menunjukkan ketidakridhaan terhadap rezeki Allah.
Lisan yang terbiasa mencela akan menjauhkan hati dari rasa cukup dan qana’ah, sehingga nikmat terasa selalu kurang.
Adab Muslim Terhadap Makanan
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat sederhana namun dalam maknanya. Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya.
Jika tidak berselera, beliau meninggalkannya tanpa komentar buruk. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan menjadi patokan utama adab Muslim terhadap makanan.
مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنْ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
Artinya: Nabi saw tidak pernah mencela makanan sekalipun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya) (HR. Bukhari no 5409 dan Muslim no 2064)
Dari teladan ini, Islam mengajarkan bahwa tidak menyukai makanan bukanlah dosa, tetapi mencelanya adalah akhlak yang tercela. Seorang Muslim cukup diam, meninggalkan makanan tersebut dengan adab, tanpa merendahkan atau meremehkan nikmat yang Allah berikan.
Menjaga lisan saat berhadapan dengan makanan adalah bagian dari menjaga hati. Dari hal kecil inilah rasa syukur tumbuh, iman dikuatkan, dan adab seorang Muslim terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Mencoba Menipu Allah: Bentuk Hilah Modern yang Sering Dilakukan Gen Z
Editor: Annisa Adelina Sumadillah
