Beritaislam.com – Di tengah kehidupan sosial yang semakin terbuka, penilaian manusia terasa begitu dekat dan menekan. Apa pun yang kita lakukan seolah selalu ada mata yang mengamati, komentar yang menilai, dan standar yang harus diikuti.
Tak jarang, rasa takut dinilai manusia justru lebih dominan dibanding rasa takut kepada Allah. Tanpa disadari, hal ini perlahan menggeser arah ketaatan, dari mencari rida Allah menjadi mengejar penerimaan sosial.
Islam menempatkan rasa takut kepada Allah sebagai fondasi iman. Namun ketika posisi itu tergantikan oleh penilaian manusia, ada tanda-tanda yang patut diwaspadai.
Tanda-tanda Lebih Takut Dinilai Manusia Daripada Allah
Pertama, kamu lebih memilih mengikuti standar buatan manusia meski harus melanggar perintah Allah.
Contohnya terlihat pada fenomena muslimah yang diminta menutup aurat dengan jilbab menjulur ke dada sebagaimana terdapat dalam surah An-Nur ayat 31,
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣١
Artinya: Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.
Tetapi, yang terjadi sekarang malah banyak muslimah yang justru lebih mengutamakan penampilan agar tetap modis dan diterima.
Lahirlah tren jilbab ikat yang kadang hanya menutup kepala. Keinginan tampil indah di mata manusia mengalahkan ketaatan yang seharusnya ditujukan kepada Allah.
Kedua, kamu meninggalkan ibadah wajib karena takut dicap saleh atau salehah. Misalnya merasa malu menunaikan salat ketika sedang nongkrong karena teman-teman tidak salat.
Padahal Rasulullah SAW bersabda bahwa perbedaan antara seorang muslim dan kekafiran adalah meninggalkan salat.
وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُولُ : (( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Artinya: Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Rasa malu kepada manusia akhirnya lebih besar daripada rasa takut melalaikan kewajiban kepada Allah dan ini merupakan bentuk riya yang harus diwaspadai seorang muslim.
Ketiga, kamu menormalisasi sesuatu yang jelas dilarang dalam Islam demi menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Contohnya menganggap pacaran wajar karena “semua orang juga begitu”. Padahal Allah dengan tegas melarang mendekati zina dalam Al-Quran surah Al-Isra ayat 32, karena perbuatan itu adalah jalan yang buruk. Larangan yang jelas menjadi samar ketika standar sosial lebih diutamakan
Keempat, ibadah menjadi rajin ketika ada manusia, namun melemah saat sendirian. Ini tanda bahwa motivasi ibadah bergeser dari Allah kepada penilaian manusia. Padahal Allah Maha Melihat, baik saat kita disaksikan orang lain maupun ketika sendiri.
Rasa takut dinilai manusia adalah fitrah, tetapi ketika ia mengalahkan takut kepada Allah, di situlah iman perlu dievaluasi. Karena pada akhirnya, penilaian manusia tak menentukan keselamatan, sementara rida Allah adalah tujuan sejati.
Jadi, itulah beberapa tanda lebih takut dinilai manusia ketimbang Allah. Dengan mengetahui tanda-tanda ini diharapkan bisa menjadi refleksi diri untuk menjadi muslim yang lebih baik.
Baca Juga: “Harus Pakai Masya Allah Biar Gak Kena Ain”: Benarkah?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
