Beritaislam.com — Fenomena pacaran masih menjadi realitas yang sulit dilepaskan dari kehidupan sosial, bahkan di tengah lingkungan yang sudah memahami ajaran agama. Tak sedikit orang yang sebenarnya tahu larangan pacaran dalam Islam, namun tetap menjalaninya dengan berbagai dalih.
Situasi ini sering menempatkan seorang teman pada dilema, diam demi menjaga hubungan, atau menasihati dengan risiko dianggap menghakimi. Ditambah lagi larangan pacaran dalam Islam sudah banyak diketahui dan bahkan mereka yang mempraktikannya sudah mengetahui mengenai larangan pacaran tersebut.
Haruskan Menasehati Teman yang Sudah Tahu Larangan Pacaran?
Dalam Islam, menasihati bukan sekadar pilihan moral, melainkan bagian dari tanggung jawab keimanan. Ketika melihat teman masih pacaran meski paham dalam Islam terdapat larangan pacaran, maka keharusan untuk saling mengingatkan tetap ada, selama dilakukan dengan cara yang benar.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 104,
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
Artinya: Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Ayat ini menegaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak gugur hanya karena objek nasihat sudah tahu ilmunya.
Pacaran sendiri kerap membuka pintu pada pelanggaran lain yang lebih besar. Allah SWT mengingatkan dalam surah Al-Isra ayat 32, bahwa pacaran hukumnya haram karena dapat mendekatkan manusia pada mendekati zina.
Maka, membiarkan teman terus pacaran tanpa upaya mengingatkan bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pembiaran, yang kelak juga akan dimintai pertanggung jawaban.
Namun, bagaimana jika sudah dinasehati secara halus hingga beberapa kali tapi mereka tetap pacaran?
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Artinya: Dari Abu Said Al Khudri ra, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)
Saat nasehat sudah dilaksanakan, maka selanjutnya dengan mengingkari perbuatan yang mereka lakukan dengan hati, meski ini selemah-lemahnya iman.
Kamu juga bisa mendoakan mereka agar Allah lembutkan hatinya dalam menerima hidayah. Karena sejatinya, hati setiap manusia berada di tangan Allah.
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
Artinya: “Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad).
Menasehati teman yang masih pacaran bukan berarti merasa lebih suci, melainkan bentuk kepedulian. Cara penyampaian yang lembut, waktu yang tepat, dan niat yang lurus menjadi kunci agar nasihat tidak berubah menjadi luka.
Sebab dalam Islam, kebenaran tetap harus disampaikan, meski tidak selalu mudah diterima.
Baca Juga: Pacaran Mengajarkan Berpura-pura: Alasan Logis Islam Melarang Pacaran Sebagai Jalan Mencari Jodoh
Editor: Annisa Adelina Sumadillah
