Beritaislam.com – Ketika seseorang meninggalkan kebaikan karena takut dianggap riya oleh manusia, maka ini bentuk halus dari riya. Pada titik ini, niat tidak lagi murni tertuju kepada Allah, melainkan teralihkan pada penilaian manusia. Kebaikan akhirnya ditinggalkan, bukan karena Allah melarangnya, tetapi karena rasa takut terhadap pandangan sesama.
Sebab ukuran amal dalam Islam adalah niat, bukan komentar atau asumsi manusia. Ketika manusia dijadikan pusat pertimbangan, di situlah setan mulai masuk dan melemahkan amal. Padahal niat merupakan pondasi dari setiap amal.
Rasulullah SAW bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
Artinya: ” Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya mencari karena dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju .” (HR. Bukhari).
Tips Melawan Bisikan Setan Melawan Was-was Riya
Pertama, melawan bisikan setan dengan melakukan kebalikannya. Ulama besar Ibrahim an-Nakha’iy rahimahullah pernah menasihati,
“Apabila setan datang kepadamu dan kamu sedang shalat, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya kamu sedang berbuat riya’, maka panjangkanlah shalatmu.”
Maksudnya, jangan menghentikan amal hanya karena bisikan itu. Jika setan membisikkan agar berhenti mengaji, bersedekah, atau berbuat baik karena takut dianggap pamer, maka tetaplah lakukan kebaikan tersebut sambil meluruskan niat kepada Allah.
Bahkan jika kebaikan itu ingin diposting agar orang lain terinspirasi, maka tetaplah posting dan jangan ragu. Selagi kamu tahu niat dihatimu, maka tak perlu dengarkan bisikan setan.
Kedua, mengucapkan ta’awudz ketika bisikan itu muncul. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, bahwa apabila datang godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah, karena Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Mengucapkan a’udzubillahi minasy-syaithanir rajim adalah bentuk pengakuan bahwa manusia lemah dan membutuhkan perlindungan Allah dari bisikan yang menyesatkan.
Ketiga, memperbanyak dzikir dan memohon perlindungan Allah. Dzikir membuat hati lebih tenang dan fokus kepada Allah, bukan kepada penilaian manusia.
Dengan hati yang terjaga, bisikan setan akan melemah, dan kebaikan dapat terus dilakukan dengan niat yang diperbaiki dari waktu ke waktu.
Allah SWT berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ٤٥
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal : 45)
Jadi, keikhlasan bukan berarti berhenti berbuat baik, tetapi terus meluruskan niat sambil tetap melangkah di jalan kebaikan.
Baca Juga: Mengelola Overthinking Menurut Perspektif Islam agar Hati Lebih Tenang dan Pikiran Lebih Jernih
Editor: Annisa Adelina Sumadillah
