Beritaislam.com — Pernah dengar kalimat ini, “aku mulut doang yang jahat, tapi hati baik?” kalimat yang biasanya dilontarkan oleh orang-orang bermulut pedas dalam mengkritik atau menilai orang lain. Kalimat ini juga sering digunakan untuk membenarkan perilaku orang yang suka mengatakan sesuatu tanpa filter, tidak peduli perasaan orang lain dan asal bicara pedas begitu saja sebagai dalil pembenaran atas tindakannya itu.
Kalimat semacam ini juga makin gencar terdengar dengan adanya sosial media, semua orang berpengaruh macam influencer memilih membranding diri mereka sebagai mulut pedas, tapi memiliki hati yang baik. Lantas, bagaimana pandangan Islam dalam menghadapi fenomena ini? Benarkan jika mulut atau lisan tidak dapat menjadi patokan atas hati seseorang?
Pandangan Islam Tentang “Mulut Doang yang Jahat, Tapi Hati Baik”
Dalam Islam, mulut atau lisan merupakan sesuatu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Allah SWT berfirman:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Artinya: “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang terlebih dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 24)
Allah juga berfirman,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat yang disadari, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang yang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya kecuali di pengawalan penjaga pengawas yang selalu hadir ”.
Seorang muslim, hendaknya menjaga lisannya dari kalimat-kalimat yang jahat apalagi sampai dapat melukai hati orang lain.
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan mengucapkan kata yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar ” (Al-Ahzab: 70-71).
Orang yang dengan sengaja membiarkan lisannya berkata pedas hingga menyakitkan orang lain juga akan memikul dosa atas lisannya tersebut kelak di akhirat.
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ ٥٨
Artinya: Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata. (Al- Ahzab: 58).
Sehingga sudah jelas bagi seorang muslim, bahwa lisan bukanlah perkara kecil yang bisa digampangkan apalagi dengan dalil ‘mulut doang yang jahat, tapi hati baik’.
Karena sejatinya, seorang muslim yang baik merupakan muslim yang mampu menjaga lisannya dan menjaga orang dari kejahatan lisannya, sebagaimana yang Rasulullah SAW sampaikan.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangan ” (HR. Bukhari).
Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah juga menyampaikan bahwa banyak umat Islam yang tergelincir ke api neraka lantaran tidak pandai menjaga lisan.
“Aduh kasihan ibumu, hai Mu’adz! Bukankah yang membuat manusia tersungkur ke neraka itu hanyalah buah dari lisan-lisan mereka sendiri?” (Riwayat at-Tirmidzi).
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berkata-kata manis hanya untuk menutupi hati yang kotor, dan juga tidak mengajarkan manusia berkata kasar meski memiliki hati yang baik.
Islam mengajarkan manusia untuk mengatakan kalimat yang baik dan benar, dan jika tidak penting atau malah akan membuat orang lain terluka, maka diam adalah sikap yang baik.
Rasulullah SAW bersabda,
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
Artinya: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari).
Dengan demikian sudah sangat jelas bagaimana pandangan Islam mengenai kalimat “mulut doang yang jahat, tapi hati baik” sejatinya bukanlah merupakan suatu sikap yang diboleh seorang muslim.
Baca Juga: Nikah Bukan Satu-satunya Solusi Biar Gak Zina: 3 Solusi Terhindar dari Zina yang Ditawarkan Islam
Penulis : Annisa Adelina Sumadillah
