Beritaislam.com – Pernah dengar kalimat, “percuma ngaji kalau masih maksiat”, kalimat ini terdengar sangat bijak dan terdengar berusaha menjaga orang yang ngaji untuk selalu bersih atau setidaknya jarang melakukan maksiat.
Kalimat ini juga mengingatkan orang yang ngaji untuk selalu menjaga marwah mereka karena mereka dekat dengan Al-Quran jika melakukan maksiat maka ngajinya jadi percuma dong.
Namun, tidak jarang, dibalik kalimat ini juga bisa diartikan sebagai “bahwa orang yang banyak maksiat jangan ngaji”. Akibatnya, orang yang ingin bertaubat menjadi takut, ragu dan mungkin merasa tertolak, saat ia ingin memulai langkah kembali dengan mengaji.
Hukum Membaca Al-Quran Bagi Muslim
Dilansir dari website almanhaj, seorang muslim hendaknya selalu menjaga dan membaca Al-Quran, sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam Al-Quran Surah Al-Ankabut ayat 45.
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
Artinya: Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Anjuran untuk selalu menjaga dan membaca Al-Quran juga terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 27. Allah SWT berfirman,
وَاتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖۗ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُوْنِهٖ مُلْتَحَدًا ٢٧
Artinya: Bacakanlah (Nabi Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.
Muslim diperintahkan untuk selalu mendekatkan diri dengan Al-Quran, karena Al-Quran merupakan pendoman hidup pertama umat muslim. Selain itu, ada banyak keutamaan dan manfaat dari membaca Al-Quran, salah satunya dapat menjadi syafaat kelak di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه
Artinya: “Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat”. (HR. Muslim).
Membaca Al-Quran sama saja seperti menjaga diri untuk selalu dekat dengan panduan buku hidup yang Allah SWT turunkan sebagai cahaya untuk umat muslim. Jika tanpanya, maka panduan hidup mana yang dapat membantu kita?
Benarkah Percuma Ngaji Kalau Masih Maksiat?
Maksiat adalah segala sesuatu perbuatan yang dilarang dan dibenci Allah SWT serta dapat mendatang keburukan untuk diri sendiri maupun orang lain. Melakukan maksiat dapat membuat pelakunya mendapatkan dosa dan murka Allah SWT.
Sedangkan mengaji adalah sesuatu yang Allah ridhoi dan dianjurkan pada setiap muslim. Lantas, bagaimana jika seseorang disisi lain melakukan maksiat, tapi disisi lain dia juga sering sering ngaji?
Di lansir dari kanal Instagram Ustadz Yusanto Ismail, terdapat kiasan yang sangat indah untuk menggambarkan fenomena ini, beliau mengibarkan maksiat itu sebagai penyakit dan ngaji itu sebagai obat. Jangan berhenti minum obat, hanya karena penyakit belum sembuh total.
Beliau juga menjelaskan bahwa “rajin ngaji tapi masih sering maksiat” merupakan fenomena dimana seharusnya dua hal tersebut saling terikat, tapi yang terjadi malah pengalaman mengajinya tidak diikat dengan akidah sehingga terjadilah pengetahuan itu hanya sebatas pengetahuan tanpa disertai pengamalan dan pemahaman.
Yang artinya, orang tersebut hanya sebatas tahu karena sering ngaji tapi ia mengabaikan pengetahuan itu dan tetap melakukan maksiat, yang merupakan sesuatu perbuatan yang tidak baik.
Namun, hal itu tidak lantas membenarkan perkataan “percuma ngaji kalau masih maksiat”, sudah rajin mengaji merupakan hal baik yang harus dijaga terus.
Beliau menambahkan bahwa dengan terus mengaji maka orang yang berbuat maksiat akan dihadapkan pada dua pilihan yaitu terus mengaji lalu berhenti maksiat atau berhenti ngaji terus maksiat. Karena mustahil dua hal yang bertentangan akan terus bersama, pasti harus dipilih salah satunya. Dan diharapkan yang menang yaitu terus mengaji berhenti maksiat.
Jadi, jika seorang muslim yang rajin ngaji tapi tetap maksiat, maka jangan disuruh berhenti ngajinya, apalagi dipatahkan dengan kalimat “percuma ngaji kalau masih maksiat”, tapi doakan agar ngajinya bisa menjadi cahaya agar ia berhenti maksiat.
Baca Juga: Takut Dicap Munafik: Ketakutan Muslimah Menggunakan Jilbab
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.
