Beritaislam.com – Ungkapan “sejarah milik pemenang” sering digunakan untuk menggambarkan bahwa narasi sejarah kerap ditulis oleh pihak yang berkuasa. Kebenaran bisa dipelintir, disembunyikan, atau bahkan dihilangkan demi kepentingan tertentu.
Namun, bagaimana jika seorang Muslim yang jadi pemenang? Bagaimana seharusnya seorang muslim menyampaikan sejarah?
‘Sejarah Milik Pemenang’, Cara Muslim Menyikapinya?
Dalam Islam, seorang Muslim diperintahkan untuk selalu menyampaikan kebenaran, meskipun kebenaran itu pahit dan tidak menguntungkan secara duniawi.
Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam menyikapi narasi ‘sejarah milik pemenang’.
Allah SWT dengan tegas berfirman,
اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ ١٠٥
Artinya: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Mereka itulah para pembohong.” (QS. An-Nahl: 105).
Ayat ini menegaskan bahwa kebohongan, termasuk memutarbalikkan fakta sejarah, bukanlah sikap seorang mukmin.
Seorang Muslim tidak dibenarkan menutupi kebenaran hanya karena takut pada kekuasaan atau tekanan mayoritas. Dalam Islam, kebenaran harus diutamakan.
“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)
Kejujuran merupakan sikap utama yang harus dimiliki seorang muslim, lantas bagaimana jika sejarah yang ada tidak menguntungkan di pihak Islam? Maka, kesalahan yang terjadi bisa dijadikan sebagai cara untuk muhasabah agar kedepannya jadi lebih baik.
Bukan malah dihilangkan, diperindah, atau bahkan diputar balikan. Ini bukan sikap sejati seorang muslim yang menjadi Al-Quran dan Sunnah pendoman hidup.
Hendaknya seorang muslim saat memenangkan sesuatu tidak akan mengubah, membohongi sejarah yang ada dan tidak mengikuti narasi sejarah milik pemenang.
Baca Juga: Wanita Friendly Dalam Pandangan Islam: Apa Bahayanya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
