Beritaislam.com – Pernahkan kamu merasa malas atau malah kesal saat azan berkumandang yang menandakan waktu salat? Bagi sebagian orang, salat yang seharusnya menjadi penenang justru terasa sebagai beban. Rasa malas, terburu-buru, hingga perasaan terpaksa kerap muncul tanpa disadari.
Padahal salat merupakan kewajibkan yang harus dilakukan setiap muslim yang balig dan berakal. Allah SWT berfirman,
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ ٤٣
Artinya: Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah: 43).
Fenomena salat menjadi beban ini tidak selalu menandakan lemahnya iman, tetapi sering kali menunjukkan bahwa hubungan batin dengan ibadah tersebut belum terbangun dengan utuh. Islam sendiri tidak menghendaki ibadah yang dijalankan dengan keterpaksaan, melainkan dengan kesadaran dan ketenangan hati.
Tips Mengubah Salat Menjadi Rutinitas yang Membahagiakan.
Pertama, memahami makna salat secara menyeluruh merupakan langkah awal yang sangat penting. Banyak orang melaksanakan salat hanya sebatas gerakan dan bacaan, tanpa benar-benar memahami alasan mengapa salat diwajibkan.
Ketika arti setiap gerakan dan bacaan salat dipahami, ibadah tidak lagi terasa kosong. Kesadaran inilah yang perlahan mengikis perasaan salat menjadi beban dan menggantinya dengan rasa keterhubungan.
Kita juga perlu tahu manfaat salat yang salah satunya dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
Artinya: Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut : 45).
Kedua, memaknai salat sebagai kebutuhan rohani, bukan sekadar kewajiban. Manusia sejatinya selalu membutuhkan Allah SWT dalam setiap kondisi hidupnya.
Salat adalah sarana terdekat untuk menyampaikan harap, takut, dan syukur. Sebagaimana makan dan tidur dibutuhkan tubuh, salat dibutuhkan jiwa. Ketika salat diposisikan sebagai kebutuhan, bukan perintah yang memberatkan, hati akan lebih mudah menerima dan merindukannya.
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ٤٥
Artinya: Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (QS. Al-Baqarah: 45).
Ketiga, menunaikan syariat salat secara sempurna juga berpengaruh besar pada kenyamanan batin. Wudu yang dilakukan dengan tenang, memastikan kiblat, serta mengenakan pakaian yang menutup aurat dengan pantas dapat membantu menghadirkan kesadaran penuh sebelum menghadap Allah.
لا يُسبِغُ عبدٌ الوضوءَ؛ إلّا غفَر اللهُ لهُ ما تقدمَ من ذنبِه وما تأخَّرَ
Artinya: “Tidaklah seorang hamba melakukan wudhu dengan sempurna, melainkan Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang,” (HR Al-Bazzar).
Persiapan yang baik merupakan langkah ringan semacam ini sangat ampuh agar membuat salat terasa lebih khusyuk dan tidak tergesa-gesa.
Keempat, selalu memohon kepada Allah agar hati dilembutkan dan ditumbuhkan rasa cinta terhadap salat. Hidayah untuk mencintai ibadah adalah karunia Allah. Doa yang tulus menjadi pengakuan bahwa manusia tidak mampu mengubah hatinya sendiri tanpa pertolongan-Nya.
Dengan demikian, salat menjadi beban bukanlah akhir, melainkan tanda bahwa ada proses batin yang perlu diperbaiki. Ketika makna, kebutuhan, adab, dan doa berjalan seiring, salat perlahan akan berubah menjadi rutinitas yang membahagiakan.
Baca Juga: Cut Off Dalam Pandangan Islam: Memaafkan tapi Menolak Kembali Berjumpa
Editor: Annisa Adelina Sumadillah
