Beritaislam.com – Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, toleransi sering dijadikan simbol kedewasaan dan sikap terbuka. Namun, di tengah arus moderasi yang kerap disalahpahami, toleransi justru berisiko kehilangan arah.
Tidak sedikit yang menganggap semua perbedaan harus diterima tanpa batas, bahkan sampai mengaburkan keyakinan. Padahal dalam Islam, toleransi memiliki koridor yang jelas agar tetap menjaga kemurnian aqidah tanpa menghilangkan sikap adil dan beradab.
Batas Toleransi agar Tidak Kehilangan Arah
Islam mengajarkan toleransi yang tegas namun bermartabat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 6,
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ ٦
Artinya: Untukmu agamamu dan untukku agamaku.
Ayat ini menunjukkan bahwa toleransi dalam Islam berarti saling menghormati tanpa mencampuradukkan keyakinan. Tidak ada paksaan, tidak ada cemoohan, tetapi juga tidak ada kompromi dalam urusan iman.
Batas toleransi yang pertama adalah tidak merambat pada aqidah. Seorang Muslim diperintahkan untuk menghormati pemeluk agama lain, namun tetap meyakini kebenaran Islam secara utuh.
Contohnya menghadiri acara sosial, bekerja sama dalam urusan kemanusiaan, atau hidup berdampingan adalah bentuk toleransi yang dibenarkan, selama tidak mengakui atau membenarkan ajaran yang bertentangan dengan tauhid.
Selanjutnya, toleransi tidak boleh membuat seorang Muslim ragu terhadap prinsip agamanya sendiri. Contohnya toleransi berubah menjadi relativisme, seolah semua keyakinan dianggap sama benarnya, di situlah arah mulai hilang.
Padahal seorang muslim haruslah percaya bahwa hanya agama Islam yang Allah ridhoi, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman,
الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩
Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya). (QS. Ali-Imran: 19)
Islam menolak sikap ekstrem semacam ini dan juga sikap ekstrem tanpa adab maupun sikap yang longgar hingga mengorbankan iman.
Toleransi dalam Islam bukan sikap pasif yang membiarkan kebenaran kabur, melainkan sikap aktif menjaga kedamaian secara sosial dengan tetap berpegang pada prinsip.
Dengan memahami batas toleransi agar tidak kehilangan arah, umat Islam dapat hidup harmonis tanpa harus menggadaikan aqidah yang menjadi fondasi utama keimanan.
Baca Juga: Islam KTP : Bahaya Ketika Agama Hanya Dijadikan Warisan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
