Beritaislam.com – Tren ‘at least’ sekarang tengah booming di TikTok, trent ini pada awal mulanya dibuat untuk menghibur dan saling bercanda, entah bersama teman maupun keluarga, yang dimainkan berdua atau lebih. Namun, semakin berkembang trent ini, semakin banyak orang menggunakan tren ini sebagai bentuk normalisasi membuka aib teman mau pun aib sendiri.
Aib dalam Islam merupakan perkara yang sangat dilarang untuk diumbar apalagi dipamerkan dengan rasa bangga di media sosial. Lantas bagaimana Islam memandang trent ini? Dan bagaimana seharusnya muslim menyikapi trent ini?
Tren “At Least” Dalam Pandangan Islam
Tren ‘at least’ terus berkembang, yang lama kelamaan malah menjadi ajang saling roasting atau bahkan membuka keburukan dan kesalahan teman maupun diri sendiri.
Semakin gong kalimat yang dilontarkan, semakin dianggap menarik, hingga tak jarang aib pun keluar.
Padahal jelas dalam Islam, Allah mengharamkan membuka aib sendiri maupun aib orang lain yang telah Allah SWT tutup, apalagi untuk hal remeh temeh seperti ini.
Rasulullah SAW bersabda, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim,
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Artinya: “Setiap ummatku dimaafkan, kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Sesungguhnya, termasuk menampakkan kemaksiatan adalah seseorang berbuat suatu perbuatan maksiat di malam hari kemudian di pagi harinya dia menceritakan perbuatannya tersebut, padahal Allah sendiri telah menutupinya. Dia mengatakan, ‘Hai Fulan! Tadi malam saya berbuat demikian dan demikian.’ Sepanjang malam Tuhannya telah menutupi aibnya, tetapi ketika pagi hari dia justru membuka penutup yang telah Allah tutupkan padanya.”
Dari hadis ini jelaslah bagi seorang muslim untuk menjaga lisannya dalam membuka aib diri sendiri mau pun orang lain.
Hendaknya kita menyadari bahwa aib bukanlah sesuatu yang boleh disebarluaskan apalagi dianggap sebagai bercandaan, sekali pun sudah berdamai dengan aib itu, tetap saja kita tetap berkewajiban menjaganya.
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian berbuat ghibah kepada kaum muslimin dan janganlah mencari-cari aurat (aib) mereka! Karena siapa saja yang suka mencari-cari aib kaum muslimin, maka Allah pun akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad).
Dan hendaknya sebagai seorang muslim, kita saling menjaga aib sesama muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR Muslim)
Dan ingatlah, bahwa Allah SWT sangat menjaga marwah setiap manusia. Allah menutupi aib dan dosa yang dilakukan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لاَ يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِى الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
Sebagai seorang muslim dalam menyikapi tren ini, hendaknya kita menjauhinya, jangan menjadikan ajang buka aib sebagai hiburan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah An-Nur ayat 19,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya, orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Jadi, itulah pandangan Islam mengenai membuka aib diri sendiri mau pun aib orang lain, yang sekarang tengah menjelam sebagai trent ‘at least’.
Sebagai seorang muslim, hendaknya kita bijak dalam mengikuti atau membuat trent, dan jauhilah perkara yang malah membuat kita jauh dari ridho-Nya.
Baca Juga: Cut Off Dalam Pandangan Islam: Memaafkan tapi Menolak Kembali Berjumpa
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.
