Beritaislam.com – Dalam Islam gibah adalah dosa besar, meski yang dikatakan merupakan kebenaran. Seringkali orang banyak membahas dampak gibah dari sisi korban, padahal dampak gibah tidak hanya berhenti pada korban, tapi bisa mengenai pada masyarakat hingga pelakunya. Ironisnya, dampak ini jarang benar-benar disadari oleh pelakunya.
Dampak Gibah bagi Pelakunya
Pertama, bangkrut kelak di akhirat. Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan amal kebaikan, namun pahala tersebut habis karena pernah mencela, menuduh, dan menggunjing orang lain.
Rasulullah SAW bersabda,
فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ (رواه مسلم)
Artinya: Orang yang menderita bangkrut berat dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari kemudian dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak, ia datang dengan membawa pahala shalatnya yang begitu besar, pahala puasa, pahala zakat, sedekah, amal dan sebagainya. Tetapi kemudian datang pula menyertai orang itu, orang yang dulu pernah dicaci maki, pernah dituduh berbuat jahat, orang yang hartanya pernah dimakan olehnya, orang yang pernah ditumpahkan darahnya. Semua mereka yang dianiaya orang tersebut, dibagikan amal-amal kebaikannya, sehingga amal kebaikannya habis. Setelah amal kebaikannya habis, maka diambillah dosa dan kesalahan dari orang-orang yang pernah dianiaya, kemudian dilemparkan kepadanya kemudian dicamppakkannya orang itu ke dalam neraka. (HR. Muslim).
Gibah bukan hanya soal dosa, tapi soal pemindahan pahala. Ketika seseorang membicarakan keburukan orang lain, ia sedang mempertaruhkan seluruh amal baiknya sendiri. Inilah bentuk kerugian yang sering dianggap sepele, padahal paling fatal.
Kedua, menurunnya wibawa dan integritas diri. Pelaku gibah mungkin merasa sedang “mengikat kedekatan” dengan orang lain, padahal secara tidak langsung ia sedang merusak citra dirinya sendiri.
Orang yang terbiasa membicarakan aib orang lain akan sulit dipercaya. Hari ini ia membicarakan orang lain, besok orang akan khawatir ia membicarakan mereka. Perlahan, kepercayaan runtuh, dan integritas diri ikut terkikis.
Ketiga, rusaknya hubungan sosial dan ketenangan hidup. Gibah membuat seseorang sibuk mengurusi hidup orang lain hingga lupa memperbaiki dirinya sendiri. Hatinya tidak tenang karena selalu dipenuhi perbandingan, penilaian, dan prasangka.
Hubungan pun menjadi rapuh, penuh curiga, dan mudah retak. Hidup terasa lelah bukan karena beban sendiri, tapi karena terlalu sering membawa beban hidup orang lain.
Jadi, itulah dampak gibah bagi pelakunya yang jauh lebih besar daripada sekadar dosa lisan. Ia bisa menghabiskan pahala, merusak diri, dan membuat hidup kehilangan ketenangan. Karena itu, menjaga lisan bukan hanya soal adab, tapi soal keselamatan dunia dan akhirat.
Baca Juga: Overthinking Ala Tsabit bin Qais yang Patut Ditiru!
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
