Beritaislam.com – Kedudukan wanita dalam Islam adalah sangat tinggi dan mulia. Wanita memiliki peran yang penting sebagai madrasah pertama dalam membangun peradaban. Wanita lah yang akan mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang shalih dan shalihah sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Sebagai seorang ibu, wanita adalah madrasah pertama yang akan memperkenalkan anak-anaknya tentang pentingnya ilmu pendidikan, agama, moral dan etika. Al-Qur’an dan sunnah menjelaskan betapa mulianya peran seorang wanita yang memiliki tanggung jawab sebagai ibu, istri, anak, maupun saudara.
Kedudukan Seorang Wanita dalam Membangun Peradaban
Beban yang dipikul oleh seorang wanita mempunyai kedudukan yang lebih berat daripada ayah, sehingga berbakti kepada ibu adalah kewajiban bagi setiap anak.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوْكَ
Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.” (Hadist Riwayat Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
Artinya: “Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (QS. Luqman: 14)
Rumah yang dibangun diatas pondasi cinta, kasih sayang keluarga, dan juga didikan yang sesuai syariat dan sunnah-sunnah agama Islam bisa menjadi sumber keberkahan bagi para penggunanya.
Berasal dari lingkungan yang Islami seperti inilah maka kemudian akan lahir dan menghasilkan generasi penerus peradaban yang senantiasa mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT.
Kedudukan wanita dalam Islam sangatlah besar karena seorang wanita bukan hanya sebagai penghuni dan pengisi rumah saja melainkan juga sebagai penentu arah untuk generasi peradaban di masa yang akan datang.
Dari tangan seorang wanita, maka lahirlah pribadi-pribadi yang memiliki iman, ilmu, dan ketaqwaan sebagai penopang umat. Maka dari itu, memuliakan seorang wanita juga sama saja dengan menjaga masa depan peradaban Islam.
Jika ibu yang baik, maka akan menghasilkan anak keturunan yang baik dan nantinya akan membangun generasi yang berkualitas. Wanita juga memiliki andil dalam membangun pendidikan, agama, politik, kebudayaan, dan bidang-bidang lainnya.
Rasulullah SAW pun menganjurkan bahwa mencari ilmu bukan hanya wajib bagi seorang pria melainkan juga wanita karena keduanya memiliki hak yang sama. Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (Hadist Riwayat Ibnu Majah).
Sungguh, kita bisa melihat teladan yang baik dalam masalah ini dari Khadijah, istri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam menenangkan rasa takut Rasulullah ketika beliau didatangi malaikat Jibril membawa wahyu yang pertama kalinya di Gua Hira’.
فَرَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقَالَ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي، فَزَمَّلُوهُ، حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ، وَأَخْبَرَهَا الخَبَرَ: لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي. فَقَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلَّا، أَبْشِرْ، فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الحَدِيثَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ
Artinya: Nabi pulang ke rumah dengan gemetar dan hampir pingsan, lalu berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Demi melihat Nabi yang demikian itu, Khadijah berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (Hadist Riwayat Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada di dalam Islam, seorang muslimah harus senantiasa memberikan kontribusinya untuk membangun peradaban bangsa yang lebih maju. Seorang wanita juga harus sadar bahwa dirinya memiliki peran sebagai madrasah al-ula yaitu pendidik pertama bagi anak-anaknya.
Itulah tadi mengenai kedudukan seorang wanita dalam membangun peradaban. dapat disimpulkan jika wanita memiliki kedudukan yang amat sangat penting dalam membangun keilmuan dan peradaban Islam untuk masa depan.
Baca Juga: Kapan Doa-doamu Dikabulkan dan Diterima Allah? Inilah 4 Ciri-cirinya!
Penulis: Suci Wulandari
