Beritaislam.com – Ungkapan ‘enak ya jadi kamu’ sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, terutama saat seseorang terlihat hidupnya rapi, tenang, dan penuh pencapaian.
Dalam pandangan Islam, fenomena ini tidak cukup disikapi dengan perasaan semata, tetapi perlu diarahkan agar tidak menjerumuskan hati pada keluh kesah dan ketidakridhoan.
Sikap Muslim dalam Menyikapi ‘Enak ya Jadi Kamu’
Kata ‘enak ya jadi kamu’ seharusnya tidak membuat seorang Muslim terjebak pada perbandingan hidup. Sikap pertama yang bisa dilakukan adalah menjadikannya sebagai doa.
Dalam Islam, ucapan yang keluar dari lisan memiliki nilai doa, baik disadari maupun tidak, bahkan jika perkataannya baik bisa dinilai sebagai sedekah.
قول معروف صدقة
Artinya: “Ucapan yang baik adalah sedekah.” (HR Muslim).
Maka, ketika mendengar atau mengucapkan ‘enak ya jadi kamu’, seorang Muslim bisa memaknainya sebagai doa agar Allah terus memberi kebaikan, keberkahan, dan kemudahan hidup.
Sikap kedua, jadikan kalimat tersebut sebagai pengingat untuk bersyukur. Tidak semua hal yang terlihat “enak” benar-benar tanpa ujian.
Allah sering menutup kesedihan dan aib hamba-Nya di hadapan manusia. Inilah bentuk kasih sayang Allah yang besar. Allah SWT berfirman,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur tidak hanya atas nikmat yang tampak, tetapi juga atas perlindungan Allah yang menutupi luka dan perjuangan hidup kita dari pandangan orang lain.
Ketika orang lain berkata ‘enak ya jadi kamu’, itu bukan tanda hidup tanpa ujian, melainkan tanda Allah menjaga kehormatan kita. Cukup Allah saja yang mengetahui seluruh struggle dan lelah seorang hamba.
وَاِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَاِنَّهٗ يَعْلَمُ السِّرَّ وَاَخْفٰى ٧
Artinya: Jika engkau mengeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui (ucapan yang) rahasia dan yang lebih tersembunyi (darinya). (QS. Thah:7)
Ayat ini mengingatkan bahwa apa yang kita pendam dan perjuangkan tidak pernah luput dari pengetahuan Allah.
Jadi, itulah cara terbaik seorang muslim dalam menghadapi fenomena ‘enak ya jadi kamu’, yang tidak perlu disikapi dengan iri atau perasaan bersalah.
Seorang Muslim diajarkan untuk mengubahnya menjadi doa, memperkuat rasa syukur, dan menyadari bahwa setiap hidup memiliki ujiannya masing-masing. Inilah sikap hati yang tenang dan diridhai dalam Islam.
Baca Juga: Manajemen Waktu Seorang Muslim
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.
